Madison tak berakhir dengan satu orang menyeberangi garis. Ia berakhir dengan angka.
Itulah yang dulu paling Arka benci dari nomor ini, dan sekarang yang membuat menit-menit berikutnya menjadi siksaan paling halus yang pernah ia rasakan. Tak ada momen kemenangan yang jelas, tak ada pita yang diputuskan dada. Hanya poin—dikumpulkan sprint demi sprint sepanjang lima puluh menit, lap-lap yang direbut, lap-lap yang hilang—dijumlahkan oleh petugas di meja juri sementara empat belas tim yang tersisa berputar pelan di lintasan, basah keringat, menunggu.
Arka mengayuh perlahan di banking bawah, kakinya hampir tak menekan pedal lagi, dan Yoga datang menyejajarinya. Mereka tak bicara. Yoga hanya mengulurkan tangan, dan Arka menyambutnya—bukan handsling kali ini, hanya genggaman, telapak ke telapak, dua orang yang baru saja menumpahkan segalanya bersama. Yoga meremas bahunya. Arka membalas. Itu cukup. Itu seluruh percakapan yang mereka butuhkan.
"Aku tak tahu," kata Arka akhirnya, suaranya parau. "Garis sprint terakhir. Aku tak tahu siapa duluan."
"Tipis," kata Yoga. Ia menatap papan juri yang masih kosong. "Sangat tipis."
Di sisi lintasan, Arka mencari Hasan dan menemukannya—pria tua itu turun dari tribun ke pagar pembatas, dipapah seorang petugas, tongkatnya mengetuk lantai, papan hitungannya masih di tangan. Dari kejauhan Arka tak bisa membaca wajahnya. Tapi ia melihat Hasan menatap papan juri dengan intensitas yang sama seperti saat ia membaca punggung lawan, menghitung, menghitung ulang, bibir bergerak tanpa suara.
Mei berlari menyusuri pinggir lintasan, membawa botol minuman, dan saat ia cukup dekat Arka melihat matanya basah meski ia tersenyum. "Kau lihat?" teriaknya melewati pagar. "Kau lihat dirimu sendiri? Arka, kau melaju seperti—" Ia tak menyelesaikannya. Ia hanya menggeleng, tertawa dan menangis sekaligus.
Arka mengayuh mendekat ke pagar dan mengambil botol. Tangannya gemetar. Bukan dari minum—dari kelelahan, dari adrenalin yang surut, dari lutut yang sekarang berdenyut dengan irama yang ia tahu artinya tak baik. Ia menelan air, menutup mata sejenak, dan membiarkan dirinya, untuk pertama kalinya dalam lima puluh menit, sekadar bernapas.
"Tim merah memang lebih dulu di garis terakhir," kata Mei cepat, mata terpaku ke papan juri di seberang. "Tapi mereka kehilangan lap di pertengahan, saat jatuhan itu—mereka terjebak di belakangnya satu lap penuh. Itu minus dua puluh poin. Dan tim biru—" Ia berhenti, menghitung di kepalanya seperti yang Hasan ajarkan padanya bertahun lalu, gadis endurance yang membaca lap board lebih baik dari siapa pun di Rajawali. "Tim biru paling konsisten. Mereka pasti memimpin. Tapi posisi dua dan tiga—"
Pengeras suara berderak. Suara petugas, datar dan resmi, memenuhi arena, dan ribuan orang di tribun diam menunggu.
Arka menggenggam pagar.
Hasil dibacakan dari bawah ke atas, seperti selalu, untuk menahan ketegangan sampai akhir. Tim-tim yang tersingkir karena jatuhan disebut pertama—tak menyelesaikan, tanpa klasifikasi. Lalu posisi-posisi bawah, satu per satu, tim-tim yang berjuang dan kalah. Arka tak mendengar nama Rajawali di antara mereka, dan setiap nama yang bukan namanya membuat jantungnya naik satu anak tangga.
Posisi enam. Bukan Rajawali. Posisi lima. Bukan. Posisi empat—dan Arka menahan napas, karena posisi empat berarti gagal, posisi empat berarti pulang tanpa medali—
Nama tim ungu disebut di posisi empat.
Arka merasakan Yoga mencengkeram lengannya. Mei berhenti bernapas di sisi pagar. Di kejauhan, Hasan berdiri sangat diam.
Pengeras suara melanjutkan. Posisi tiga—medali perunggu Kejuaraan Nasional nomor madison putra—
Dan suara petugas mengucapkan nama yang selama tiga dekade tak pernah terdengar di podium balap lintasan nasional. Velodrom Rajawali, Bandung. Arka Wijana dan Yoga.
Arena meledak, tapi Arka nyaris tak mendengarnya. Ia mendengar Mei menjerit, merasakan Yoga menariknya ke pelukan kaku yang canggung dan kuat, melihat dari sudut matanya Hasan—pria tua yang menjaga papan kayu sekarat seperti menjaga makam selama tiga puluh tahun—menundukkan kepala ke pagar pembatas, bahu bergetar. Bukan perunggu yang membuat Arka tercekat. Bukan medali. Tapi wajah Hasan, yang akhirnya, akhirnya, terlihat seperti seseorang yang meletakkan beban yang ia pikul lebih lama dari usia Arka.
Bukan emas. Tim biru mengambil emas, tim merah perak. Tapi perunggu ini—medali nasional pertama velodrom kayu itu dalam tiga puluh tahun—bukan tentang logam. Itu tentang garis yang dinyatakan masih hidup. Lisensi yang tak akan dicabut. Buldoser yang harus menunggu lebih lama. Dan seorang anak panti yang menemukan, di papan kayu sekarat, bahwa ia tak pernah benar-benar sendirian.
Arka menunduk di setangnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia kecil, ia membiarkan dirinya menangis di depan orang banyak.