Senna turun di final keirin individual keesokan harinya, dan Arka menonton dari tribun dengan lutut terbungkus, dan apa yang ia lihat bukan balapan—itu sebuah keputusan yang diambil di depan ribuan orang.
Ayah Senna duduk di area tim, di kursi berlapis dengan logo klub di mana-mana, dengan rombongan staf dan ponsel dan tatapan yang menuntut. Arka pernah mendengar tentang pria itu dari Mei: pemilik klub kaya yang memandang anaknya sebagai investasi, yang mengirim pesan satu kata sebelum lomba—Emas—dan tak pernah datang menjemput, hanya menjemput hasil. Senna yang menang sepanjang hidupnya dengan mata kosong, menang untuk layar ponsel, bukan untuk dirinya.
Motor derny memimpin enam pembalap mengelilingi lintasan, kecepatan meningkat lap demi lap, dan saat derny minggir di tiga lap terakhir, keirin meledak jadi sprint murni. Senna ada di posisi kedua, di belakang seorang veteran, di garis yang sempurna. Arka, yang sekarang membaca balapan dari pinggir lebih tajam dari sebelumnya, melihatnya dengan jelas: Senna punya kemenangan ini. Posisinya benar, kakinya segar, lawan di depannya akan memudar. Yang perlu Senna lakukan cuma melepas di waktu yang tepat dan emas itu miliknya.
Di dua lap terakhir, Senna melepas. Ia melesat keluar dari banking, menyalip veteran di depannya, dan untuk satu detik ia memimpin keirin final nasional dengan jarak yang cukup untuk menang.
Lalu sesuatu terjadi yang membuat seluruh tribun tak mengerti, tapi Arka mengerti.
Senna tak menambah. Di tempat yang biasanya seorang sprinter menggali sumur terakhir tenaganya, mengubah memimpin jadi kemenangan mutlak, Senna justru mengangkat dagunya dari setang. Sepersekian detik. Cukup untuk membiarkan dua pembalap di belakangnya menutup jarak. Cukup untuk mengubah kemenangan pasti menjadi perebutan yang ia kalah—finis ketiga, perunggu, di lomba yang ia bisa menangkan dengan mata tertutup.
Dari area tim, ayah Senna berdiri. Bahkan dari kejauhan Arka bisa melihat amarah di postur tubuhnya, ponsel di tangan, mulut bergerak mengucapkan sesuatu yang Arka senang tak bisa dengar. Senna tak menoleh ke arah ayahnya. Ia mengayuh pelan di banking, menurunkan kecepatan, dan untuk pertama kalinya sejak Arka mengenalnya, wajahnya tak kosong. Ada sesuatu di sana. Lega, mungkin. Atau awal dari lega.
Senna mencarinya usai lomba, di lorong di balik tribun, masih berkeringat, perunggu di tangan—bukan di leher, di tangan, seperti ia belum memutuskan apakah akan memakainya.
"Kau melihatnya," kata Senna. Bukan pertanyaan.
"Ya," kata Arka. "Kau bisa menang."
"Aku bisa menang," Senna mengulang pelan. Ia menatap medali di tangannya. "Aku sudah menang seratus kali. Tahu apa yang aku rasakan setiap kali? Tak ada. Aku menyeberangi garis dan menunggu merasa sesuatu, dan tak pernah ada apa-apa. Cuma layar ponsel yang menyala dengan satu kata." Ia mengangkat wajahnya. "Kemarin aku melihatmu di podium dengan rekanmu. Kalian perunggu. Aku punya lemari penuh emas dan kalian punya satu perunggu, dan kalian punya sesuatu yang aku tak pernah punya dalam hidupku."
Arka tak tahu harus berkata apa, jadi ia diam, seperti yang Hasan ajarkan—kadang diam adalah membaca lawan, dan kadang diam adalah menghormatinya.
"Kau pernah bertanya padaku," lanjut Senna, "di tenda, dua hari lalu. Apakah aku menang untuk diriku atau untuk layar ponsel. Aku marah waktu itu. Tapi pertanyaan itu tak mau pergi." Ia menarik napas. "Hari ini aku menjawabnya. Aku tak mau menang untuk layar ponsel lagi. Bahkan kalau itu berarti ayahku menarik dukungannya. Bahkan kalau itu berarti aku mulai dari nol."
Arka teringat dirinya sendiri—anak panti yang dulu hanya percaya pada kaki sendiri, yang harus belajar bahwa menang sendirian dengan mata kosong bukan kemenangan sama sekali. Dan ia menyadari, dengan keterkejutan pelan, bahwa ia telah memberi Senna sesuatu tanpa pernah berniat: bukti bahwa ada cara lain.
"Velodrom Rajawali tua dan miskin," kata Arka. "Catnya mengelupas. Tribunnya berdebu. Tapi papan kayunya jujur. Kalau kau mau, suatu hari, datanglah berlatih di sana."
Senna menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tersenyum—senyum kecil, lelah, tapi tulus. "Anak jalanan beruntung," katanya, tapi sekarang kata-kata itu tak ada bisanya. Itu hampir, hampir, sebuah keakraban.
Ia mengulurkan tangan. Arka menjabatnya. Dua rival yang dulu saling menghancurkan di sprint pertama mereka, sekarang berdiri setara di lorong yang sama—bukan karena salah satu kalah, tapi karena keduanya akhirnya mengerti apa yang sebenarnya mereka kejar.
Senna pergi ke arah berlawanan dari area timnya, menjauh dari ayahnya, dengan medali masih di tangan dan langkah yang lebih ringan dari saat ia datang. Arka memandanginya sampai ia hilang di tikungan lorong, lalu menoleh ke arah pintu keluar arena, ke arah Bandung, ke arah rumah.
Waktunya pulang.