Doni tidak sabar, dan itu masalahnya.
Arka menyadarinya pada pagi pertama ia melatih anak itu secara serius—bukan lagi sekadar mengawasi sekelompok remaja panti bermain-main di lintasan, tetapi benar-benar melatih, satu lawan satu, dengan stopwatch dan papan tulis kecil dan target yang ditulis. Doni empat belas tahun, kurus dengan lutut yang masih lebih besar dari pahanya, dan ia membaca garis seperti Arka dulu: insting murni, mata yang tahu di mana ruang akan terbuka sebelum ruang itu ada. Tapi setiap kali Arka menyuruhnya menahan, anak itu meledak terlalu cepat. Setiap kali Arka menyuruhnya menempel di belakang dan mencuri angin, Doni justru menyalip, ingin di depan, ingin merasakan lintasan kosong di hadapannya.
"Kau seperti melihat cermin," kata Mei, yang datang membantu di sela jadwal latihannya sendiri. "Itu kau, tiga tahun lalu. Persis."
Arka mengerang. "Aku separah ini?"
"Lebih parah. Kau bahkan tak mau dengar penjelasan gear ratio."
Ia mengerti sekarang, dari pinggir lintasan, apa yang dulu membuat Hasan begitu sabar dan begitu frustrasi sekaligus. Mengajari kaki itu mudah. Doni punya kaki—seperti Arka punya kaki. Mengajari kepala itu yang sulit. Mengajari anak yang seluruh hidupnya berlari sendirian untuk percaya bahwa kadang menahan diri adalah cara menang, bahwa menyerahkan posisi depan pada lawan bisa jadi taktik, bahwa kesabaran bukan kelemahan—itu butuh waktu yang tak bisa dipaksa.
"Kenapa aku harus di belakang?" tanya Doni di hari ketiga, kesal setelah Arka menahannya selama sepuluh lap penuh dalam sebuah simulasi. "Aku lebih cepat dari mereka. Aku bisa di depan dari awal."
Arka tidak menjawab dengan teori. Ia naik ke sepedanya sendiri—gerakan yang kini ia ukur, menjaga lutut kanannya—dan menyuruh Doni mengejarnya. "Tempel di belakangku," katanya. "Sedekat mungkin. Jangan menyalip."
Mereka mengayuh sepuluh lap. Arka memimpin, memecah angin, dan Doni menempel di belakang roda belakangnya pada jarak setapak. Lalu di lap kesebelas Arka melambat sedikit dan berkata, "Sekarang lewati aku."
Doni melontarkan diri ke depan—dan terkejut betapa segar kakinya. Sepuluh lap menempel di belakang Arka, ia hampir tak mengeluarkan tenaga. Angin yang seharusnya melawannya telah dipikul oleh tubuh di depannya. Ketika ia akhirnya menyalip, kakinya masih penuh, sementara Arka—yang memecah angin sepuluh lap—mulai kehabisan.
"Itu," kata Arka, terengah, saat mereka berhenti, "yang aku coba ajarkan. Anak yang di depan dari awal membakar dua kali lipat tenaga. Anak yang sabar di belakang menyimpannya untuk saat yang penting. Di balapan sungguhan, anak sabar itu yang menang di seratus meter terakhir, sementara yang di depan terlalu lama sudah kosong."
Doni diam, mengolah itu di kepalanya yang empat belas tahun. "Jadi sabar itu... menyimpan."
"Sabar itu senjata," kata Arka, mengulang kalimat yang dulu Mei katakan padanya di velodrom yang sama, dan merasakan sesuatu yang aneh dan utuh—garis kalimat itu mengalir dari Hasan ke Mei ke dirinya ke anak ini, tak putus, menyambung tahun demi tahun. "Bukan kelemahan. Kau menahan kakimu bukan karena kau lemah. Kau menahannya karena kau cukup kuat untuk menunggu."
Hari-hari berikutnya Arka menurunkan setiap pelajaran pahit yang ia kumpulkan dengan harga mahal. Ia mengajari Doni membaca punggung—kapan bahu lawan menegang sebelum serangan, kapan kayuhan mengendur untuk memancing. Ia membongkar gear ratio gigi demi gigi seperti dulu Mei membongkarnya untuknya, menjelaskan kompromi antara akselerasi dan kecepatan puncak. Ia menyuruh Doni mengelem tubular dengan tangannya sendiri sampai jarinya lengket, karena pembalap yang tak kenal sepedanya bukan pembalap utuh.
Dan ada satu hal yang Arka tak tahu cara mengajarkannya dengan kata-kata: kepercayaan. Maka ia mengajarkannya dengan tubuh. Ia mulai melatih Doni handsling—lemparan tangan yang menukar pembalap dalam madison—mula-mula pada kecepatan paling pelan, hampir berjalan, di lintasan datar. Tangan Doni kaku dan ragu, sama seperti tangan Arka dulu, karena anak yang hidup sendirian tak pernah belajar bahwa tangan orang lain bisa dipegang tanpa dikhianati.
"Pegang pergelanganku," kata Arka. "Jangan ragu. Kalau kau ragu, lemparanmu setengah, dan setengah lebih berbahaya dari tidak sama sekali. Kau harus percaya aku akan menangkapmu."
"Bagaimana kalau kau tidak menangkap?"
Arka menatap anak itu, dan untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri menanyakan pertanyaan yang sama pada Yoga, di velodrom besar ibu kota, dengan ketakutan yang sama. "Aku akan menangkap," katanya. "Itu yang membuat ini tim. Bukan kakimu. Bukan kakiku. Tangan yang saling pegang."
Mereka melempar ratusan lemparan sore itu. Pada lemparan yang entah ke berapa, Doni berhenti ragu. Tangannya bertemu pergelangan Arka dengan keyakinan penuh, dan Arka melontarkannya ke depan dengan mulus, dan anak itu meluncur ke lintasan kosong sambil tertawa—tawa yang sama yang dulu pecah dari dada Arka ketika ia pertama kali percaya pada Yoga.
Malam itu, mengunci pintu velodrom dengan kunci kuningan di lehernya, Arka menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat. Mengajari Doni percaya sedang menyembuhkan sisa luka di dalam dirinya sendiri. Setiap kali anak itu memegang pergelangannya tanpa ragu, sebagian dari Arka yang dulu tak pernah dipegang siapa pun ikut sembuh. Garis itu tidak hanya menyambung ke depan, ke generasi yang belum lahir. Ia menyambung ke belakang juga, menambal lubang-lubang di anak kurir yang dulu yakin ia akan selalu sendirian.