Bu Karini menelepon pada hari yang basah, ketika hujan menggenang di parkiran velodrom dan suara air menetes dari atap yang bocor mengisi garasi seperti metronom.
Arka mengenali nama itu begitu Mei menyebutkannya. Bu Karini dan Pak Hendra—pasangan pemilik jaringan toko sepeda regional yang pernah datang berbulan lalu, ketika kisah anak panti dan velodrom sekarat masuk media lokal. Waktu itu mereka tertarik pada ceritanya, bukan glamornya, dan untuk sesaat tampak seperti penyelamat. Lalu syaratnya muncul, terselip halus dalam pembicaraan: dana akan mengalir jika Arka pindah ke klub binaan mereka, meninggalkan Hasan, meninggalkan Rajawali sebagai nama belaka di dadanya. Arka menolak. Ia memilih jalan yang lebih sulit, crowdfunding komunitas yang lambat dan rapuh tetapi miliknya sendiri, dan ia mengira itu akhir dari Bu Karini.
Kini perempuan itu menelepon lagi.
Mereka bertemu di garasi velodrom, bukan di kantor mengilap, karena Bu Karini bilang ia ingin melihat tempatnya. Ia datang bersama Pak Hendra, keduanya melepas sepatu di pintu seolah masuk rumah orang, dan berjalan pelan menyusuri pinggir lintasan kayu sambil menyentuh papan yang catnya mengelupas. Doni dan dua anak panti sedang berlatih handsling di lintasan, suara tawa dan dentang bel lap memantul di tribun berdebu.
"Aku berhutang maaf," kata Bu Karini, tanpa basa-basi, berdiri di tengah arena sambil menatap banking utara. "Berbulan lalu kami menawarkan dana dengan syarat yang salah. Kami pikir kami membeli atlet. Kami tak mengerti apa yang sedang kalian bangun."
Arka tidak menjawab. Ia sudah belajar, dari ruang-ruang rapat federasi dan dari godaan-godaan kecil, untuk tak terburu memercayai kata-kata baik.
"Kami mengikuti kalian," kata Pak Hendra. "Setelah kau menolak kami, kami pikir kalian akan habis dalam tiga bulan. Velodrom tanpa uang besar tak bertahan. Tapi kalian tidak habis." Ia menoleh ke Doni di lintasan. "Kalian malah tumbuh. Anak-anak itu—dari mana mereka datang?"
"Panti," kata Arka. "Dan sekitar. Mereka datang karena dengar ada tempat yang tak menolak anak tak punya uang."
Bu Karini mengangguk pelan, seperti itu menjawab sesuatu yang lama ia tanyakan pada dirinya sendiri. "Itu yang tak bisa dibeli klub kami dengan semua dana kami. Kami punya lintasan bagus, sepeda mahal, pelatih bersertifikat. Tapi kami tak punya anak-anak yang datang karena lapar. Kami punya anak-anak yang diantar mobil orang tua mereka." Ia berhenti. "Aku tak ke sini menawarkan kau pindah lagi. Aku ke sini menawarkan sesuatu yang berbeda."
Syaratnya, kali ini, tidak ada syarat yang menyakiti siapa pun. Dana untuk program pembinaan Rajawali—bukan untuk Arka, melainkan untuk anak-anak. Perbaikan lintasan: mengganti papan yang lapuk di banking selatan, memperbaiki atap yang bocor, mengecat ulang garis yang sudah pudar. Dua sepeda lintasan ukuran remaja untuk anak-anak yang tumbuh terlalu cepat dari sepeda lama. Nama Bu Karini dan Pak Hendra akan tertera di dinding sebagai pendukung, tapi Hasan tetap pelatih, Rajawali tetap Rajawali, dan tak ada satu pun atlet yang harus meninggalkan siapa pun.
"Kenapa?" tanya Arka, karena ia harus tahu. "Kenapa sekarang, tanpa syarat?"
"Karena dulu kami melihat kau sebagai investasi," kata Bu Karini jujur. "Sekarang kami melihat apa yang kalian bangun, dan kami ingin jadi bagiannya. Bukan memilikinya. Bagiannya." Ia menatap Hasan, yang berdiri diam di pinggir, kunci velodrom kini tergantung di leher Arka alih-alih dirinya. "Aku terlalu lama berpikir bahwa uang membeli prestasi. Kalian mengajariku prestasi tumbuh dari tanah yang dirawat lama, dan uang hanya bisa menyiramnya—tak bisa menanamnya."
Hasan, yang sepanjang pertemuan diam, akhirnya bicara. Suaranya serak oleh batuk yang tak sembuh. "Kalau dananya cair besok dan habis tahun depan, kami akan kembali seperti semula. Aku tak butuh penyelamat sekali datang. Aku butuh tangan yang tetap di sini."
"Lima tahun," kata Pak Hendra. "Komitmen tertulis. Diperpanjang kalau program berjalan. Kami tak mau jadi pemadam kebakaran yang datang sekali. Kami mau jadi pupuk yang tinggal."
Arka menatap kontrak yang mereka letakkan di meja garasi, di antara kaleng lem tubular dan kunci-kunci pas yang berminyak. Ia memikirkan crowdfunding yang rapuh, sumbangan-sumbangan kecil dari komunitas sepeda yang ia kumpulkan sen demi sen, yang membuat velodrom bernapas dari bawah tapi selalu hampir kehabisan napas. Ia tidak akan membuang itu. Napas dari bawah tetap berharga. Tapi ada perbedaan antara bertahan hidup dan tumbuh, dan untuk pertama kalinya sejak ia memegang kunci kuningan ini, Arka melihat jalan yang tak hanya menahan velodrom dari kematian, tetapi memberinya hidup.
Ia menandatangani. Bukan karena keajaiban menyelamatkan tempat itu—ia sudah lama berhenti percaya pada keajaiban. Melainkan karena kerja panjang akhirnya menemukan tanah untuk berdiri. Apa yang ia bangun dari bawah, dari penolakan dan crowdfunding dan tawa anak panti, akhirnya cukup nyata sehingga orang yang dulu ingin membelinya kini ingin merawatnya.