Surat untuk Mei datang dalam amplop resmi federasi, dan ketika ia membukanya di garasi velodrom dengan jari yang gemetar, ia membaca isinya tiga kali sebelum berani memercayainya.
Pemusatan latihan nasional penuh. Nomor endurance—individual pursuit dan points race. Bukan undangan sparring seperti dulu, bukan pendamping, bukan pelengkap di pinggir program orang lain. Namanya sendiri, di daftarnya sendiri, untuk mimpinya sendiri.
Arka melihat wajah Mei berubah—kegembiraan yang pecah lalu, sepersekian detik kemudian, sesuatu yang lebih rumit menyelinap di baliknya. Pemusatan nasional di Jakarta. Berbulan-bulan. Jauh dari Bandung, dari velodrom kayu ini, dari Arka.
"Kau harus pergi," kata Arka sebelum Mei sempat mengatakan apa pun.
Mei menurunkan surat itu. "Aku belum bilang apa-apa."
"Wajahmu sudah bilang. Kau sedang menghitung apa yang kau tinggalkan." Arka menggeleng. "Berhenti menghitung. Kau harus pergi."
Ini bukan hal yang mudah ia ucapkan, dan Mei tahu itu. Mereka telah membangun sesuatu yang lambat dan hati-hati selama berbulan-bulan—sejak Mei merawatnya saat lututnya cedera, sejak Arka membiarkan satu orang masuk ke dalam dinding yang dulu ia jaga mati-matian. Anak kurir yang takut bersandar telah belajar bersandar pada perempuan ini, dan kini ia menyuruhnya pergi.
Mereka berjalan keluar, menyusuri trotoar basah di sekitar velodrom, hujan sudah reda menyisakan bau aspal dan tanah. Mei masih memegang surat itu seperti tak yakin ia boleh memilikinya.
"Kau ingat dulu," kata Mei, "saat aku mengajarimu lap board dan ritme napas? Coach Darma bahkan tak melihatku. Aku cuma 'pembalap perempuan dari velodrom kecil'. Mereka pikir aku ada untuk mengisi tim, untuk jadi sparring kalian yang laki-laki." Ia tersenyum getir. "Aku menghabiskan tahun-tahun meyakinkan diri sendiri bahwa membantu kalian menang adalah kemenanganku. Karena itu satu-satunya kemenangan yang mereka izinkan aku punya."
Arka diam. Ia tahu ini, sebagian. Tapi mendengarnya diucapkan utuh membuat dadanya sesak.
"Lalu Coach Darma melihatku di points race," lanjut Mei. "Saat aku jadi sparring-mu, ingat? Aku menahanmu, menunjukkan padamu kepala dingin mengalahkan kaki rakus. Aku tak sadar dia sedang menonton aku, bukan kau." Ia menatap surat itu. "Dan sekarang ini. Mimpiku sendiri. Yang selama ini tertutup bukan karena aku kurang cepat, tapi karena aku dari tempat yang salah dan jenis kelamin yang salah di mata mereka."
"Kau tidak kurang cepat," kata Arka. "Kau yang paling pintar di lintasan ini. Lebih pintar dariku. Aku punya kaki, kau punya kepala, dan kepala yang menang di pursiut dan points race. Mereka tolol karena tak melihatnya selama ini."
Mei tertawa, basah dan pendek. "Jadi kau tidak akan minta aku tinggal?"
Dan inilah ujian yang Arka tak sangka akan datang padanya. Anak yang dulu menggenggam semua yang ia punya dengan jari terkepal, takut kehilangan, takut ditinggalkan—anak itu kini berdiri di hadapan satu-satunya orang yang ia izinkan dekat, dan diminta merelakannya pergi mengejar sesuatu yang bukan tentang dirinya.
"Aku belajar satu hal dari handsling," kata Arka pelan, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Percaya bukan berarti memegang erat-erat. Justru sebaliknya. Saat aku melontarkan Yoga di madison, aku harus melepaskannya, membiarkannya pergi ke depan, percaya dia kembali. Kalau aku terus memegang, lemparannya gagal, kami berdua jatuh." Ia menatap Mei. "Kalau aku memintamu tinggal, aku memegang erat-erat. Dan itu akan menjatuhkan kita berdua. Pergilah ke pemusatan. Lontaranku. Aku percaya kau kembali—dan kalaupun kau menemukan lintasan yang lebih besar di sana dan tak kembali, aku tetap senang aku melontarkanmu."
Mei menatapnya lama, dan ada air di matanya yang bukan dari hujan. "Kapan kau jadi sebijak ini?"
"Aku tidak bijak," kata Arka. "Aku cuma akhirnya mengerti apa yang Hasan dan kau coba ajarkan bertahun-tahun. Garis tidak boleh putus. Tapi garis juga tidak boleh dipegang sampai mati. Ia harus mengalir, atau dia bukan garis—dia tali pengikat."
Mei berangkat ke Jakarta dua minggu kemudian. Arka mengantarnya ke stasiun, membawakan tas berisi sepatu balap dan ban tubular cadangan yang ia lem sendiri sebagai bekal. Di peron, mereka tidak banyak bicara. Mei memegang pergelangan tangannya sebentar—gerakan handsling, tanpa sepeda, tanpa lintasan, hanya dua orang yang telah belajar bahwa tangan orang lain bisa dipegang tanpa dikhianati.
"Aku kembali," kata Mei. Bukan pertanyaan. Janji.
"Aku tahu," kata Arka. Dan ia melepaskan, membiarkannya naik ke kereta, membiarkannya pergi ke depan—dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, melepaskan seseorang tidak terasa seperti kehilangan. Terasa seperti melontarkan rekan ke serangan terbaiknya, dan menunggu, dengan kepercayaan penuh, untuk lemparan kembali.