Senna datang di pagi yang biasa, tanpa pengumuman, persis seperti dulu ia datang tak diundang untuk mengukur Arka dan menanam keraguan. Tapi kali ini ia berhenti di pintu velodrom dan menunggu—tidak masuk seenaknya seperti dulu, melainkan berdiri di ambang sampai Arka melihatnya dan mengangguk masuk.
Ia membawa tas sepedanya sendiri. Sepeda lintasannya, dibongkar dan dikemas rapi, gear dan ban cadangan tertata dengan presisi seorang yang menghitung segalanya.
"Klub ayahku menarik dukungannya," kata Senna, meletakkan tas di lantai garasi. Suaranya datar, tapi Arka sudah belajar membaca punggung orang, dan ia melihat ketegangan yang dulu jadi baju zirah kini terkelupas di tepi-tepinya. "Setelah aku menolak menang demi mereka di kejuaraan, ayahku bilang aku membuang masa depanku. Dia tak salah sepenuhnya. Klub itu punya lintasan terbaik di kota, pelatih terbaik, semuanya." Ia menatap papan kayu Rajawali yang catnya mengelupas, banking empat puluh dua derajat yang dulu ia ejek. "Dan sekarang aku tak punya tempat berlatih."
Arka tidak langsung menjawab. Ia ingat bagaimana Senna dulu menghancurkannya di sprint dengan taktik, bukan kekuatan, dan membuatnya pulang malu untuk pertama kali ingin benar-benar belajar. Ia ingat "anak jalanan beruntung" yang Senna sematkan padanya. Ia ingat segala kedinginan, segala remehan.
Tapi ia juga ingat sisi lain Senna yang ia lihat di pemusatan: latihan obsesif sampai tengah malam, telepon dingin dari ayah yang menuntut, kedinginan yang ternyata baju zirah bukan kesombongan murni. Ia ingat Senna yang mengaku pernah cedera dan ditinggalkan timnya, itu sebabnya ia tak percaya siapa pun, itu sebabnya ia menang sendirian. Ia ingat Senna yang, di kejuaraan, sengaja mengangkat dagu dan melepas kemenangan pasti—menolak menang demi gengsi—karena melihat Arka memilih madison telah mengajarkannya ada cara lain.
"Kau mengejek tempat ini," kata Arka akhirnya. "Kau bilang papan kayu tua. Gubuk."
"Aku tahu." Senna tak menghindar dari itu. "Aku salah. Bukan soal kayunya. Aku mengejeknya karena tempat ini punya sesuatu yang aku tak punya, dan aku tak tahan melihatnya." Ia menatap ke arah Doni dan anak-anak panti yang sedang memanaskan kaki di roller, suara tawa mereka memenuhi tribun. "Klub ayahku punya semua fasilitas. Tapi tak ada satu orang pun di sana yang akan menangkap tanganku kalau aku jatuh. Mereka akan melangkahi tubuhku menuju garis. Aku tahu, karena mereka pernah melakukannya."
Arka menyilangkan tangan. "Kau ke sini mau apa, Senna?"
"Berlatih," kata Senna sederhana. "Bersamamu. Bukan sebagai rival. Aku sudah lelah jadi rival semua orang." Ia berhenti, dan untuk pertama kalinya Arka mendengar sesuatu yang nyaris seperti permintaan dalam suaranya. "Kau mengundangku, dulu. Di lorong, setelah kejuaraan. Kau bilang aku boleh latih di Rajawali. Aku pikir kau cuma sopan. Tapi aku tak punya tempat lain, dan ini satu-satunya tempat yang pernah kulihat di mana orang menang dengan, bukan melawan."
Arka menatapnya lama. Dua sprinter terbaik kota, berdiri di garasi velodrom yang sekarat, salah satunya dulu menghina yang lain dan satunya dulu membenci yang pertama. Garis yang aneh telah menyambung mereka—dari adu lampu merah pertama, melalui seleksi dan cedera dan kejuaraan, sampai ke pagi ini.
"Lutut kananku rusak," kata Arka. "Aku tak bisa sprint penuh lagi. Aku beralih ke madison, endurance. Kalau kau ke sini mau sparring sprint untuk mengasah dirimu, aku bukan lawan yang berguna lagi."
Senna menggeleng. "Aku tak ke sini untuk sparring sprint. Aku ke sini untuk belajar apa yang kau tahu dan aku tidak. Cara lain itu. Cara menang yang tak menghabisi siapa pun, termasuk diri sendiri." Ia melepas jaketnya, menggulung lengan. "Lagipula—kalau kau melatih anak-anak ini madison, kau butuh seseorang yang bisa jadi target latihan. Sprinter yang bisa kau suruh anak-anakmu baca. Aku bisa jadi itu. Aku bisa jadi tembok yang mereka panjat, seperti aku dulu jadi tembok yang kau panjat."
Dan ada ironi di situ yang membuat Arka hampir tertawa—Senna, yang dulu jadi dinding yang menghancurkan dan membentuknya, kini menawarkan diri jadi dinding bagi generasi berikutnya.
"Hasan harus setuju dulu," kata Arka. "Ini velodromnya."
Mereka berjalan ke bangku lipat tempat Hasan duduk menonton anak-anak. Pria tua itu memandang Senna lama—Senna yang dulu menanam keraguan tentang masa lalunya, yang bertanya licik tentang insiden tiga puluh tahun lalu. Hasan, yang membaca punggung orang lebih lama dari siapa pun, melihat sesuatu di Senna sekarang yang tak ada dulu.
"Kau lari dari ayahmu," kata Hasan. Bukan pertanyaan.
"Aku berhenti lari ke arahnya," kata Senna. "Itu beda."
Hasan mengangguk pelan, seperti jawaban itu lulus ujian yang tak terlihat. "Velodrom ini tak pernah menolak orang yang datang untuk belajar percaya," katanya. "Bahkan yang dulu mengejeknya." Ia menatap papan kayu. "Apalagi yang dulu mengejeknya. Mereka biasanya yang paling butuh."
Maka Senna berlatih di Rajawali. Pagi-pagi berikutnya, papan kayu yang sekarat itu menjadi tempat yang dulu mustahil—dua sprinter terbaik kota berbagi lintasan yang sama, satu mengajari yang lain madison, yang lain menjadi dinding bagi anak-anak panti yang lapar. Dan kadang, di sela latihan, Arka melihat Senna mengamati Doni melempar handsling pada anak lain, dan di wajah sprinter dingin itu ada sesuatu yang melunak—pengakuan, mungkin, bahwa tempat yang ia ejek ini punya hal yang seluruh dana ayahnya tak pernah bisa membeli.