Hasan memintanya pada pagi di akhir musim hujan, ketika cahaya masuk bersih lewat ventilasi atap dan papan kayu kering memantulkan warna madu.
"Aku ingin mengayuh satu putaran," katanya pada Arka, tanpa pendahuluan, saat mereka berdua membuka velodrom di subuh. "Sebelum kakiku tak sanggup lagi naik sepeda sama sekali."
Arka menatapnya. Hasan lima puluh delapan tahun, kaki kirinya pincang sejak insiden tiga puluh tahun lalu, dan akhir-akhir ini batuk keringnya makin sering, napasnya makin pendek menaiki tribun. Pria itu tidak pernah, sepanjang Arka mengenalnya, naik ke lintasan. Ia menjaga papan kayu ini selama tiga dekade, membaca setiap pembalap dari pinggir, tapi tak pernah sekali pun Arka melihatnya mengayuh di banking yang ia jaga seperti makam. Seolah lintasan itu adalah tempat ia menghancurkan diri, dan ia menghukum dirinya dengan tak pernah lagi merasakannya.
"Kakimu," kata Arka hati-hati.
"Pelan," kata Hasan. "Aku tak akan menyerang banking. Aku cuma ingin merasakan papan ini di bawah roda sekali lagi. Aku menjaganya seumur hidup. Aku ingin merasakannya sebagai pembalap, sekali, sebelum aku terlalu tua untuk apa pun."
Mei sudah kembali dari pemusatan untuk akhir pekan—ia datang setiap kali bisa, membawa cerita tentang lintasan besar Jakarta dan ritme baru yang ia pelajari—dan ketika Arka menceritakan permintaan Hasan, ia langsung mengangguk. Mereka menyiapkan sepeda lintasan yang paling stabil, gear paling ringan, sembilan belas gigi di belakang melawan empat puluh sembilan di depan diturunkan ke rasio yang nyaris tak melawan kaki sama sekali. Arka memeriksa setiap baut, mengelem ulang tubular yang sudah ia pasang, karena pria yang akan menaikinya pernah jatuh sekali di papan ini dan tak boleh jatuh lagi.
Hasan naik dengan susah payah. Arka memegang sadel, Mei memegang setang, dan mereka menahan sepeda tegak sementara pria tua itu menaikkan kaki kanannya yang sehat ke pedal, lalu mengangkat kaki kirinya yang pincang dengan tangan, meletakkannya di pedal seberang. Tubuhnya bergetar oleh usaha. Tapi ketika ia akhirnya duduk di sadel, dengan kedua kakinya di pedal, sesuatu di wajahnya berubah—tiga puluh tahun terangkat, sesaat, seperti debu ditiup dari kaca.
"Aku pegang sampai kau stabil," kata Arka. "Lalu kami lepas. Tapi kami lari di sampingmu. Kau tak sendiri di lintasan ini, Pak. Kau tak akan pernah sendiri di sini lagi."
Hasan tidak menjawab. Tenggorokannya bergerak.
Mereka mendorong. Sepeda bergerak maju, pelan, di lintasan datar bagian dalam. Hasan mengayuh—kaki kanannya kuat, kaki kirinya hampir hanya ikut berputar dibawa pedal, tapi ia mengayuh, dan sepeda terus melaju karena di papan kayu kaki tak pernah boleh berhenti dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun pria itu mematuhi hukum itu lagi. Arka berlari di kanannya, Mei di kirinya, keduanya menjaga jarak siap menangkap.
Di tikungan pertama, banking selatan, Hasan tidak naik ke kemiringan—ia menjaga garis bawah, lintasan paling pelan, kemiringan paling landai. Tapi roda itu menyentuh kayu yang sama yang dulu menyentuh rodanya, dan Arka melihat tangan pria tua itu mencengkeram setang lebih erat, melihat matanya bergerak ke banking utara di seberang, ke titik tempat tiga puluh tahun lalu rodanya bertemu roda Broto dan keduanya terlempar.
"Terus," kata Arka pelan, berlari di sampingnya. "Jangan berhenti. Kau tahu aturannya. Tak ada rem. Tak ada berhenti. Cuma terus."
Hasan terus. Ia melewati banking utara—titik kehancurannya—dengan kaki yang terus berputar, dan Arka melihat sesuatu pecah dan sembuh di wajah pria itu pada saat yang sama. Tiga puluh tahun ia menatap titik itu dari pinggir, dari pagar pembatas, sebagai tempat kesalahannya. Kini ia melewatinya di atas sepeda, dengan dua orang berlari menjaganya, dan titik itu berubah—bukan lagi tempat ia menghancurkan rekannya, melainkan tempat ia akhirnya kembali, ditemani, tidak sendiri.
Satu putaran penuh. Dua ratus lima puluh meter papan kayu. Ketika Hasan kembali ke titik awal, pipinya basah, dan ia tidak malu oleh itu. Arka dan Mei memegang sepeda, menahannya, membantu pria tua itu turun. Kakinya nyaris tak menyangga, dan mereka memapahnya ke bangku lipat, satu di tiap sisi.
Hasan duduk, terengah, menatap lintasan yang baru saja ia kelilingi. Untuk waktu yang lama ia tak bicara. Lalu, suaranya serak: "Broto pernah bilang—sebelum kecelakaan, di garasi—dia bilang madison itu satu-satunya nomor di mana kau tak bisa menang sebagai pengkhianat. Karena kau harus menyerahkan rodamu pada rekanmu. Aku tertawa waktu itu. Aku pikir aku cukup kuat menang sendiri." Ia menggeleng pelan. "Aku salah selama tiga puluh tahun. Hari ini aku mengayuh papan ini, dan ada dua tangan menjagaku di tiap sisi, dan aku akhirnya mengerti yang Broto maksud. Tak ada yang menang sendirian di lintasan ini. Tak pernah ada."
Ia menoleh ke Arka, lalu ke Mei, dan ada damai di wajahnya yang Arka tak pernah lihat di sana sebelumnya—damai yang tiga dekade ia kejar dan tak pernah punya. "Terima kasih," katanya, "sudah berlari di sampingku."
Arka menggenggam bahu pria tua itu, kunci kuningan velodrom dingin di lehernya sendiri. "Kau sudah berlari di samping aku lebih dulu," katanya. "Aku cuma membalas."
Mereka duduk bertiga lama di pinggir lintasan, menonton papan kayu kosong yang memantulkan cahaya madu, dan Arka tahu—tanpa kata yang diucapkan—bahwa lingkaran Hasan telah menutup. Apa pun yang menanti pria tua itu, batuk yang tak sembuh, kaki yang makin berat, ia telah kembali ke titik kehancurannya dan menemukan bukan luka melainkan rumah. Tiga puluh tahun, dan akhirnya pulang.