Setahun berlalu, dan Arka berdiri di pinggir lintasan velodrom regional dengan stopwatch di tangan dan jantung yang berdebar lebih keras daripada ketika ia sendiri yang balapan.
Seleksi tingkat daerah. Doni di garis start.
Anak itu lima belas sekarang, sudah tidak sekurus dulu, paha mulai mengisi celana balapnya, lutut tak lagi lebih besar dari betisnya. Ia memakai jersey Rajawali yang Bu Karini biayai, putih dengan garis biru yang sama dengan garis di papan kayu velodrom mereka. Di lintasan regional yang lebih besar dan lebih baru ini, di antara anak-anak klub berfasilitas, Doni tampak kecil—persis seperti Arka dulu di pemusatan, anak jalanan di antara orang berseragam rapi. Tapi Arka melihat sesuatu di punggung anak itu yang ia kenal: ketenangan yang datang dari tahu, bukan dari berharap.
"Dia gugup," kata Senna, berdiri di samping Arka di pinggir lintasan, lengannya disilangkan. Sprinter itu kini bagian tetap dari Rajawali, dinding yang dipanjat anak-anak, dan ia datang menonton Doni seperti menonton sesuatu yang ia ikut bangun. "Lihat bahunya. Tegang."
"Dia gugup karena dia peduli," kata Arka. "Itu beda dari takut. Takut membekukan kaki. Gugup mempertajam." Ia mengangkat tangan, dan Doni di garis start menoleh, mencari pelatihnya. Arka membuat gerakan kecil dengan telapak tangan—turun, tenang, sabar—isyarat yang sama yang dulu Hasan buat untuknya. Bahu Doni turun setengah senti. Cukup.
Nomornya keirin—nomor yang dulu jadi taruhan pertama Arka, di mana ledakan mentah jadi senjata. Doni punya ledakan itu, kaki yang sama yang dulu Arka punya. Tapi Arka telah menghabiskan setahun mengajarinya hal yang lebih sulit dari ledakan: kapan menyimpannya. Membaca punggung lawan. Menahan diri di belakang motor derny, menempel, mencuri angin, menunggu sampai detik yang persis benar.
Motor derny masuk lintasan, mengangkat tempo lap demi lap, anak-anak menempel di belakangnya dalam barisan yang mengetat. Arka melihat Doni di posisi ketiga—bukan di depan, bukan terjebak di belakang, melainkan posisi sabar yang ia ajarkan, tempat di mana kau bisa melihat semua lawan dan menyimpan kaki. Ia hampir tak bernapas menontonnya.
"Dia menahan," gumam Senna, dan ada kekaguman tak terduga di suaranya. "Anak yang setahun lalu meledak di lap pertama. Lihat dia sekarang."
Motor derny minggir. Tiga lap tersisa. Tempo pecah—anak-anak melontarkan diri ke sprint, kekacauan kaki dan kecepatan, dan untuk sesaat Doni tertutup di tengah kerumunan. Arka mencengkeram stopwatch sampai bukunya memutih. Lalu ia melihatnya: Doni tidak panik. Anak itu menahan, membaca, menunggu satu lap lebih lama daripada yang diharapkan lawan—dan ketika seorang anak klub di depannya membuka celah di banking, Doni meledak ke ruang itu, ledakan murni yang Arka kenal seperti mengenal kakinya sendiri, melontar ke lintasan kosong di dua ratus meter terakhir.
Ia tidak menang. Seorang anak dari klub besar, lebih matang, lebih lama berlatih, menyeberangi garis lebih dulu. Doni finis ketiga.
Tapi ketiga di seleksi daerah, untuk anak panti yang setahun lalu hampir berhenti karena diejek tak punya masa depan, sudah cukup masuk ambang pembinaan. Cukup untuk namanya tercatat. Cukup untuk garis Rajawali bercabang lagi, menyambung ke generasi berikutnya yang belum lahir.
Doni mengayuh kembali ke pinggir, napas memburu, wajah merah, dan ketika ia melihat Arka, ia tidak tahu apakah ia berhasil atau gagal—tiga bukan satu, tiga bukan kemenangan yang ia bayangkan. Arka berjalan menemuinya, dan untuk sesaat ia berdiri persis di tempat Hasan dulu berdiri, di pinggir lintasan, membaca anak yang lapar, dan ia mengerti seluruhnya sekarang—mengapa Hasan tak pernah bersorak, hanya menyuruhnya ulangi yang benar.
"Aku cuma ketiga," kata Doni, suaranya pecah sedikit.
"Kau menahan kakimu sepuluh lap," kata Arka. "Kau membaca celah di banking dan kau melepas di waktu yang persis benar. Setahun lalu kau akan meledak di lap pertama dan finis terakhir." Ia meletakkan tangan di bahu anak itu—bukan menepuk, hanya meletakkannya di sana, berat dan hangat, persis seperti Hasan dulu di bahunya. "Ketiga di seleksi daerah, dari anak yang hampir berhenti. Kau tahu apa itu artinya?"
Doni menggeleng, masih ragu.
"Itu artinya garis tidak putus," kata Arka. "Itu artinya ada anak berikutnya yang akan kau ajari, suatu hari, persis seperti aku mengajarimu, persis seperti Hasan mengajariku." Ia menatap lintasan, ke arah anak-anak Rajawali lain yang menyoraki Doni dari tribun, ke Senna yang mengangguk dari pinggir. "Kau bukan cuma balapan untuk dirimu sekarang. Kau bagian dari sesuatu yang lebih panjang dari satu balapan. Dan itu—itu yang butuh seluruh hidup orang sepertiku dan Hasan untuk paham. Kau punya di umur lima belas."
Doni menatap medali ambang pembinaan yang akan datang, lalu menatap pelatihnya, dan sesuatu di wajah anak itu mengeras jadi tekad yang Arka kenal. Garis itu, yang setahun lalu nyaris dinyatakan mati, kini berdiri di garis start dalam tubuh seorang anak lima belas tahun, dan tak ada cara, tak ada keinginan, untuk berhenti.