Surat dari federasi datang menawarkan Arka kembali ke jalur sprint individual—pemulihan lututnya selama setahun cukup baik, kata dokter tim, sehingga secara teknis ia bisa mencoba lagi keirin, sprint, nomor-nomor ledakan yang dulu jadi mimpinya. Sebuah jalan kembali ke panggung bintang tunggal.
Arka membaca surat itu dua kali, lalu meletakkannya di meja garasi di antara kaleng lem dan kunci pas berminyak. Ia tidak merasakan tarikan yang dulu pasti ia rasakan. Anak kurir yang dulu, yang seluruh identitasnya adalah kecepatan dan ledakan mentah, akan menyambar surat ini seperti menyambar lampu hijau di perempatan. Tapi ia bukan anak itu lagi.
Ia keluar ke pinggir lintasan dan menonton velodrom Rajawali pada sore biasa. Doni dan tiga anak panti lain berlatih handsling, lemparan yang kini mulus, tawa memantul di tribun. Senna di banking selatan, menjadi dinding yang dipanjat seorang anak yang belajar membaca punggung sprinter. Di sudut, dua sepeda remaja baru—yang Bu Karini biayai—bersandar di dinding, menunggu kaki-kaki yang masih tumbuh. Dan di bangku lipat, Hasan duduk menonton, lebih kurus dari setahun lalu, batuknya tak sembuh, tapi matanya tenang dengan damai yang ia temukan di putaran terakhirnya.
Arka memikirkan apa artinya kembali ke sprint. Ia bisa melakukannya. Mungkin menang beberapa nomor. Mungkin jadi bintang yang menyala di bawah lampu sorot, namanya di koran olahraga, medali individual di lehernya sendiri. Tapi dokter sudah jelas setahun lalu: setiap serangan maksimal adalah lemparan dadu, dan dadu itu makin sering jatuh di angka yang salah dengan lutut seperti ini. Suatu hari akan ada satu serangan yang menghabisinya, lalu ia tak balapan apa-apa lagi. Dan lebih dari itu—lebih dari risiko—ia menyadari ia tak lagi menginginkan jalan itu.
Malam itu ia bicara dengan Hasan di bangku lipat, sama seperti dulu ia memberitahu pria tua itu soal lututnya.
"Federasi menawarkanku kembali ke sprint," kata Arka. "Lututnya cukup pulih untuk dicoba."
Hasan tidak menoleh dari lintasan. "Dan?"
"Dan aku akan menolak," kata Arka. "Aku akan tetap di madison. Beregu. Nomor yang ramah pada lutut ini, nomor yang umurnya panjang." Ia menatap anak-anak yang melempar handsling. "Dan aku akan terus membangun ini. Melatih mereka. Menjaga garis."
Hasan diam lama. Lalu: "Setahun lalu kau memilih ini karena lututmu memaksa. Sekarang lututmu memberimu pintu kembali, dan kau menolak." Ia menoleh, menatap Arka dengan mata tua yang membaca punggung orang selama tiga dekade. "Apa bedanya?"
Arka memikirkan itu. Pertanyaan yang tepat, seperti selalu Hasan tepat.
"Setahun lalu aku memilih madison karena tak ada pilihan lain," kata Arka pelan. "Aku menerimanya seperti menerima hukuman. Sekarang aku memilihnya karena aku menginginkannya. Itu bedanya." Ia berhenti, mencari kata-kata yang benar. "Aku dulu mengira jadi bintang tunggal adalah satu-satunya kemenangan yang berarti. Menang sendirian di bawah lampu sorot. Tapi aku sudah merasakan dua jenis kemenangan sekarang. Aku tahu rasanya menyalip sendirian di perempatan, dan aku tahu rasanya melontarkan Yoga lalu disambut kembali, medali yang kami bagi cahayanya. Dan yang kedua—" suaranya tercekat sedikit "—yang kedua membuat seorang pria tua menangis di pagar karena luka tiga puluh tahunnya sembuh. Yang pertama tak pernah membuat siapa pun menangis kecuali lawan yang kalah."
Hasan tidak bicara, tapi tangannya bergerak ke bahu Arka—gerakan yang kini sudah jadi bahasa di antara mereka—dan meletakkannya di sana.
"Aku tidak mau jadi bintang yang menyala sekali lalu padam," lanjut Arka, mengulang kalimat yang dulu ia ucapkan, tapi kini dengan keyakinan yang lebih dalam. "Aku mau jadi garis yang menyambung banyak orang. Bintang menyala untuk dirinya sendiri. Garis menyala untuk semua yang menyentuhnya." Ia menunjuk Doni, Senna, anak-anak panti, sepeda remaja baru di dinding. "Kalau aku kembali ke sprint dan menang, itu medaliku. Selesai di leherku. Tapi kalau aku tetap di sini, melatih, balapan madison sampai tubuhku tak sanggup—itu menyambung ke Doni, ke anak yang Doni ajari, ke anak yang anak itu ajari. Tak ada garis akhir untuk itu. Tak ada tombol berhenti."
Hasan menatap lintasan lama, lalu menatap Arka, dan untuk kedua kalinya sejak Arka mengenalnya, ada air di mata pria tua itu—bukan air mata duka, melainkan sesuatu yang lebih dekat ke kelegaan.
"Tiga puluh tahun lalu aku memilih jadi bintang dan kehilangan segalanya," kata Hasan. "Setahun lalu kau memilih garis karena terpaksa. Hari ini kau memilihnya saat kau punya pilihan untuk jadi bintang—dan kau menolaknya bukan karena lutut, tapi karena kau mengerti." Ia menggeleng pelan, kagum. "Aku menyerahkan kunci ini padamu setahun lalu karena aku takut tak ada yang akan menjaga garis ini. Sekarang aku tak takut lagi. Garis ini akan hidup lebih lama dari kita berdua."
Arka menggenggam kunci kuningan di lehernya. Ia memikirkan jalan bintang tunggal yang dulu ia bayangkan saat pertama membayangkan jadi atlet—dan menyadari ia tak pernah benar-benar menginginkannya. Ia hanya tak tahu ada jalan lain. Sekarang ia tahu. Ia akan balapan madison sampai tubuhnya tak sanggup, menang bersama bukan sendiri, dan ia akan melatih anak demi anak, menjaga papan kayu ini hidup, menyambung garis yang nyaris putus ke masa depan yang takkan ia lihat ujungnya. Bukan jalan bintang. Jalan garis. Dan untuk pertama kalinya, memilih bukan menjadi bintang tidak terasa seperti kehilangan apa pun. Terasa seperti pulang.