Hasan pergi pada awal senja di akhir musim kemarau, di bangku lipat di pinggir lintasan, menonton anak-anak berlatih handsling—pergi seperti ia hidup, dengan mata pada papan kayu dan damai di wajahnya. Arka yang menemukannya, dan ia tahu sebelum ia menyentuh bahu pria tua itu bahwa Hasan telah pulang sepenuhnya, ke tempat yang sama tempat ia akhirnya berdamai pada putaran terakhirnya. Tongkat yang dulu milik Broto—yang Hasan simpan bertahun-tahun—bersandar di kaki bangku, dan Arka memindahkannya dengan hati-hati, seperti memindahkan sesuatu yang suci.
Mereka memakamkannya dekat velodrom. Broto, yang masih hidup dan datang dengan tongkatnya sendiri, berdiri lama di samping makam, dan untuk pertama kali sejak Arka mengenal nama itu, dua pria tua yang luka tiga puluh tahunnya saling mengikat akhirnya berada di tempat yang sama—satu di bawah tanah, satu di atasnya, keduanya didamaikan oleh madison yang dimenangkan anak-anak yang mereka tak pernah bayangkan akan ada. Broto meletakkan tangannya di papan kayu velodrom sebelum pergi, dan berkata pelan, hanya pada dirinya sendiri, "Garisnya tak putus, Hasan. Kau menjaganya. Akhirnya kau menjaganya."
Senja terakhir musim itu, setelah semua orang pulang—Doni mengunci garasi alat, Senna pulang ke rumah barunya yang jauh dari ayahnya, anak-anak panti diantar Bu Ningsih yang kini pulih dan menua dengan tenang di tempat baru dekat velodrom—Arka sendirian di lintasan. Kunci kuningan di lehernya. Surat dari Mei di sakunya, dari pemusatan nasional, mengabari ia lolos ke kejuaraan dan akan pulang akhir bulan, dengan satu baris di akhir yang Arka baca berkali-kali: aku kembali, seperti janjiku.
Ia menaiki sepedanya. Lutut kanannya berdenyut pelan, denyut tetap yang kini jadi temannya, ligamen yang melemah permanen tapi cukup untuk endurance, cukup untuk madison, cukup untuk seumur hidup mengayuh. Ia menjaga gear ringan, sembilan belas gigi di belakang, dan mulai bergerak.
Satu putaran penuh. Dua ratus lima puluh meter papan kayu.
Kakinya berputar tanpa henti seperti hari pertama—karena di lintasan ini tak pernah ada rem, tak pernah ada cara untuk berhenti, kaki harus terus mengayuh atau tubuh akan jatuh. Dulu hukum itu hampir membunuhnya. Insting jalanannya, naluri untuk mengerem, untuk berhenti, untuk melepas pedal—semuanya berbahaya di papan kayu. Ia menghabiskan bulan-bulan pertama melawan hukum itu, takut padanya. Kini ia memahaminya sebagai sesuatu yang lebih dalam dari mekanik sepeda. Hidup di lintasan ini, hidup yang telah ia bangun—garis, anak-anak, velodrom yang hidup—juga tak punya tombol berhenti. Tak ada garis akhir. Hanya terus, dan terus, dan terus.
Di banking selatan ia naik ke kemiringan, merasakan gaya yang menekan tubuhnya ke papan, empat puluh dua derajat yang dulu membuatnya gemetar dan kini terasa seperti pelukan. Ia mengenang anak kurir yang berlari sendirian di jalanan Bandung—anak yang yakin seluruh identitasnya adalah kecepatan, yang menggenggam semua yang ia punya dengan jari terkepal karena takut kehilangan, yang tak pernah membiarkan siapa pun cukup dekat untuk meninggalkannya. Anak itu menyalip tiga pembalap klub di lampu merah dan tak tahu ada yang menontonnya. Anak itu tak tahu apa-apa tentang draft, tentang handsling, tentang menang bersama. Anak itu yakin ia akan selalu sendirian, dan ia salah—salah dengan cara paling indah yang bisa dibayangkan.
Di banking utara, papan tua yang sengaja tak dipoles, Arka melambat sedikit—tempat Hasan hancur, tempat Hasan kembali, tempat luka tiga puluh tahun menyembuh dengan dua tangan menjaganya di tiap sisi. Arka tidak melaju di garis bawah seperti Hasan dulu. Ia naik ke banking penuh, melewati titik itu dengan kecepatan, dan ia merasakan—dengan keyakinan yang tak butuh bukti—bahwa pria tua itu menontonnya dari suatu tempat, dengan damai yang akhirnya ia punya.
Ia menyelesaikan putaran. Garis start dan finis, tempat segalanya dimulai dan tak pernah benar-benar berakhir. Tapi ia tidak berhenti—karena ia tak bisa, karena di papan kayu kaki tak pernah boleh berhenti, dan karena ia tak ingin. Ia mengayuh putaran berikutnya, dan berikutnya, sendirian di velodrom yang sepi tetapi tak pernah benar-benar sepi lagi, dikelilingi oleh semua yang ia bangun, dijaga oleh orang-orang yang ia percayai, dipandu oleh kepala yang dulu hanya percaya kaki.
Ia mengenang kurir yang berlari sendirian, dan ia tersenyum. Anak itu tak pernah benar-benar sendiri lagi—tidak sejak Hasan melihatnya di trotoar, tidak sejak Mei mengajarinya membaca lap board, tidak sejak Yoga menangkap tangannya di madison, tidak sejak Doni memegang pergelangannya tanpa ragu, tidak sejak Senna datang ke papan kayu yang dulu ia ejek. Garis itu telah menyambungnya ke begitu banyak orang sehingga ia tak bisa lagi membayangkan dirinya sebagai satu titik tunggal. Ia bagian dari sesuatu yang lebih panjang dari hidupnya sendiri, lebih panjang dari satu balapan, lebih panjang dari satu medali.
Velodrom hidup. Garis tersambung. Dan Arka Wijana—kurir sepeda yang kakinya cepat tapi tak pernah dilatih, anak panti yang yakin akan selalu sendirian, atlet yang lututnya memaksanya memilih menang bersama alih-alih menang sendiri—mengayuh terus di papan kayu yang menyelamatkannya, kaki berputar tanpa henti, tanpa rem, tanpa cara untuk berhenti, dan akhirnya, setelah seluruh perjalanan ini, tahu persis ke mana ia melaju, dan dengan siapa, dan untuk berapa lama.
Selama-lamanya. Bersama. Tanpa berhenti.