Sekar dan Arga punya anak kedua—seorang anak laki-laki.
Mereka menamainya Damar, untuk ayah Sekar yang baru pergi. Tradisi keluarga: nama-nama yang dicintai hidup terus, diteruskan ke generasi baru.
Damar kecil berbeda dari Cahaya kecil. Tidak ada kapasitas yang kuat—hanya anak biasa, ceria, suka sepak bola dan tidak tertarik dengan cerita keluarga yang rumit.
Dan Sekar belajar sesuatu yang penting: tidak setiap anak harus membawa beban yang sama.
"Bunda," tanya Cahaya kecil, sekarang sepuluh tahun, suatu hari. "Kenapa Damar nggak denger suara kayak aku?"
"Karena setiap orang beda, sayang. Kamu bawa kapasitas. Damar enggak. Dua-duanya nggak apa-apa. Dua-duanya bagian dari keluarga kita."
"Tapi Damar nggak akan ngerti cerita keluarga kita kayak aku ngerti."
Sekar duduk dengan putrinya. "Cahaya. Dengar Bunda. Cerita keluarga kita bukan cuma soal kapasitas, soal suara, soal reinkarnasi. Itu soal kasih sayang. Dan Damar—dia bisa mencintai sama besarnya kayak kamu, walau dia nggak denger suara. Kasih sayang nggak butuh kapasitas."
Cahaya kecil mengangguk pelan. "Jadi Damar tetap bagian penting?"
"Sangat penting. Mungkin suatu hari, kamu yang bawa cerita keluarga, dan Damar yang jaga keluarga dengan cara lain—dengan jadi orang baik, jadi paman yang hangat buat anak-anakmu nanti. Dua-duanya penting."
Sekar teringat leluhurnya—begitu banyak yang tidak punya kapasitas, yang tetap menjaga rantai keluarga dengan kasih sayang biasa. Bumi Atmaja yang programmer. Cahaya Atmaja yang guru SD. Semua "orang biasa" di keluarga yang tetap membawa cinta ke depan.
"Keluarga kita," kata Sekar pada kedua anaknya malam itu, saat menidurkan mereka, "bukan keluarga yang luar biasa karena reinkarnasi atau suara di kepala. Kita luar biasa karena kita saling jaga. Selama 800 tahun. Lewat yang berkapasitas dan yang enggak. Lewat raja dan penjual buku. Lewat penyair dan programmer. Semua, dengan satu hal yang sama: kasih sayang yang nggak putus."
Cahaya kecil dan Damar kecil tertidur, dua anak yang berbeda, dua-duanya dicintai sama.
Dan Sekar duduk di antara mereka, menjaga, seperti 800 tahun keluarga menjaga sebelumnya.
(bersambung...)