Tahun-tahun berlalu, dan rumah Atmaja di Solo menjadi sesuatu yang istimewa.
Bukan museum—Sekar menolak menjadikannya itu. Tapi rumah yang selalu terbuka. Tempat keluarga-keluarga dengan anak berkapasitas datang, dari seluruh Indonesia, kadang dari luar negeri. Tempat mereka menemukan seseorang yang mengerti, yang tidak menghakimi, yang menolong.
Sekar tidak pernah memungut bayaran. "Keluargaku dibayar 800 tahun lalu," dia bercanda, "lewat kasih sayang yang aku terima. Aku cuma meneruskannya."
Arga mendukung sepenuhnya. Dia—yang dulu mahasiswa sastra—menjadi guru, lalu kepala sekolah, lalu pensiun untuk membantu Sekar penuh waktu. Mereka bekerja berdampingan: Sekar dengan anak-anak berkapasitas, Arga mengurus segala hal praktis, mencatat, mengorganisir.
"Arga," kata Sekar suatu malam, di teras rumah Solo, menatap bintang-bintang. "Kamu tahu nggak, hidup ini... hidup ini persis yang aku impikan waktu kecil."
"Yang mana?"
"Waktu aku tujuh tahun, aku bilang ke Bunda—aku mau hidup utuh, kayak Anjani, tapi sebagai pilihanku sendiri. Aku mau jatuh cinta, bikin karya, jadi tua dikelilingi keluarga." Sekar tersenyum, menggenggam tangan suaminya. "Lihat. Semua kejadian. Aku jatuh cinta—sama kamu. Aku bikin karya—buku-bukuku, anak-anak yang aku tolong. Dan aku lagi jadi tua, pelan-pelan, dikelilingi keluarga."
"Belum tua, Sekar." Arga tertawa. "Kita baru paruh baya."
"Iya. Tapi pelan-pelan ke sana. Dan untuk pertama kalinya di tiga hidup—aku nggak takut jadi tua. Aku malah nungguin. Karena jadi tua artinya aku dapat hidup yang utuh. Senja yang tenang. Yang Sekar Jakarta nggak pernah dapat."
Arga menariknya ke pelukan. "Kita akan tua bareng, Sekar. Pelan-pelan. Sampai senja."
"Sampai senja," ulang Sekar.
Di dalam rumah, Cahaya kecil—sekarang remaja—sedang mengajari seorang anak berkapasitas yang baru datang, mantra Pak Wirya. Meneruskan, tanpa diminta, apa yang ibunya ajarkan padanya.
Sekar menyaksikan dari teras, dan hatinya penuh.
Rantai berlanjut. Bukan karena dipaksa. Tapi karena kasih sayang, sekali ditanam, tumbuh sendiri—dari generasi ke generasi, dari hati ke hati.
(bersambung...)