Cahaya kecil tumbuh, dan—seperti namanya, seperti penyair Majapahit yang dia warisi namanya—dia memilih kata-kata.
Dia menjadi penulis, seperti ibunya. Tapi tidak seperti Sekar yang menulis tentang orang biasa, Cahaya muda menulis puisi. Puisi tentang waktu, tentang ingatan, tentang suara-suara yang dia dengar dan jiwa-jiwa yang dia rasakan.
Kumpulan puisi pertamanya, di usia dua puluh, diberi judul yang membuat Sekar menangis saat membacanya: **"Senja yang Selalu Kembali."**
Sekar membuka jendela kepalanya malam itu, dan memanggil Cahaya Majapahit—penyair, anaknya dari hidup kedua.
"Cahaya. Anakku yang dulu. Lihat—cucu-buyutmu, yang membawa namamu, jadi penyair sepertimu. Lintas 800 tahun, bakatmu mengalir."
Suara Cahaya Majapahit, hangat dan bangga:
*"Aku lihat, Bunda. Aku baca puisinya lewat Bunda yang membacanya. Judulnya... 'Senja yang Selalu Kembali.' Itu... itu seperti judulku dulu. 'Senja Selalu.'"*
"Iya. Tanpa dia tahu, dia menggemakan kamu. Bakatmu, judulmu, jiwamu—mengalir ke dia, lintas 800 tahun."
*"Bunda. Itu yang kuharapkan saat aku menulis dulu. Bukan supaya aku diingat. Tapi supaya cinta dan kata-kata mengalir terus, ke generasi yang tak kukenal."*
Sekar menutup jendelanya, dan pergi ke kamar putrinya, di mana Cahaya muda sedang menulis di mejanya.
"Cahaya."
"Iya, Bunda."
"Puisimu... judulnya. 'Senja yang Selalu Kembali.' Kenapa judul itu?"
Cahaya muda berpikir. "Entah, Bunda. Tiba-tiba aja muncul di kepala. Rasanya... rasanya tepat. Kayak ada yang bisikin."
Sekar tersenyum, menahan air mata. "Sayang. Penyair Majapahit yang namamu dari dia—dia juga nulis buku puisi. Judulnya 'Senja Selalu.' 800 tahun lalu."
Mata Cahaya muda melebar. "Aku... aku nggak tahu itu, Bunda."
"Bunda tahu kamu nggak tahu. Itu yang bikin ini indah." Sekar memeluk putrinya. "Bakatnya mengalir ke kamu, Cahaya. Lintas 800 tahun. Bukan karena kamu dipaksa, bukan karena kamu meniru. Tapi karena cinta dan kata-kata di keluarga kita—mereka nggak pernah hilang. Mereka cuma menunggu, lalu muncul lagi, di jiwa yang siap."
Cahaya muda memeluk ibunya erat, dua penulis, di rumah yang sudah menyimpan kata-kata selama 800 tahun.
(bersambung...)