Cahaya dan Damar tumbuh dewasa, dan memilih jalan masing-masing—seperti yang Sekar selalu inginkan untuk mereka.
Cahaya menjadi penyair yang dihormati, dan—mengikuti ibunya—membantu anak-anak berkapasitas. Dia menikah dengan seorang editor bernama Rendra, dan mereka tinggal tidak jauh dari rumah Solo.
Damar menjadi insinyur, pindah ke Surabaya, menikah dengan teman kuliahnya. Tidak berkapasitas, tidak tertarik dengan sisi mistis keluarga—tapi anak yang hangat, yang menelepon ibunya setiap minggu, yang membawa cucu-cucu pulang ke Solo setiap liburan.
Sekar mencintai keduanya sama. Dan dia bangga bahwa dia berhasil melakukan apa yang dia janjikan: membesarkan anak-anak yang bebas memilih jalan mereka, tidak terbebani oleh sejarah luar biasa keluarga.
"Arga," katanya suatu sore. "Kita berhasil."
"Berhasil apa?"
"Anak-anak. Mereka bahagia. Mereka bebas. Cahaya pilih jadi penyair karena dia mau, bukan karena dipaksa. Damar pilih jadi insinyur tanpa merasa dia 'mengkhianati' keluarga. Mereka jadi diri mereka sendiri."
Arga mengangguk. "Kamu mematahkan sesuatu, Sekar. Beban. Selama 800 tahun, setiap generasi keluarga ini merasa harus 'menjaga cerita,' membawa beban masa lalu. Kamu—kamu kasih anak-anak kita izin untuk cuma jadi diri mereka."
Sekar tersenyum. "Karena aku tahu rasanya beban dua hidup, Arga. Aku nggak mau anak-anakku merasa berat seperti aku dulu. Cerita keluarga harus jadi hadiah, bukan rantai."
Mereka menatap halaman rumah Solo, tempat dulu Sekar kecil bermain, tempat cucu-cucu mereka sekarang berlarian saat liburan.
"Kamu tahu," kata Sekar pelan, "waktu aku kecil, aku pikir aku kembali untuk hidup utuh. Itu benar. Tapi sekarang aku pikir ada alasan lain juga."
"Apa?"
"Untuk mematahkan rantai penderitaan. Setiap generasi berkapasitas sebelum aku—mereka menderita sendirian, bingung, takut. Aku kembali tahu persis rasanya. Jadi aku bisa pastikan—Cahaya, dan anak-anak yang aku tolong, mereka nggak perlu menderita sendirian lagi."
Arga menggenggam tangannya. "Itu warisan yang indah, Sekar. Bukan cuma menjaga cerita. Tapi mengakhiri penderitaan."
(bersambung...)