Sekar menggendong cucu pertamanya di usia lima puluh dua.
Anak Cahaya dan Rendra—seorang bayi perempuan. Dan saat Sekar memegang bayi mungil itu, sesuatu pecah di dalam dirinya, dan dia menangis—bukan tangis sedih, tangis yang sudah menunggu 800 tahun.
Karena Sekar Wijaya, hidup pertamanya, mati di usia dua puluh tujuh. Belum menikah. Belum punya anak. Tidak pernah menggendong bayinya sendiri, apalagi cucu.
Dan sekarang—di hidup ketiga, yang utuh—Sekar menggendong cucunya.
"Sekar," kata Arga pelan, melihat istrinya menangis. "Kamu kenapa, sayang?"
Sekar menatap cucunya, lalu suaminya, air mata mengalir.
"Arga. Sekar Jakarta nggak pernah dapat ini. Dia mati terlalu muda. Anjani dapat—dia punya cucu di Majapahit. Tapi itu hidup lalu, ingatan." Dia mengangkat bayi itu sedikit. "Ini... ini sekarang. Ini nyata. Aku—jiwa yang mati di tol Cawang, yang nggak sempat apa-apa—aku menggendong cucuku sendiri. Di tanganku. Hidup."
Arga memeluk istri dan cucunya.
"Hidupmu utuh, Sekar," bisiknya. "Benar-benar utuh sekarang. Kamu jatuh cinta, menikah, punya anak, nulis karya, nolong orang—dan sekarang, cucu. Semua yang kamu impikan waktu kecil."
Sekar mencium kening cucunya. "Halo, sayang. Aku nenekmu. Kamu nggak tahu betapa lama aku menunggu untuk jadi nenek seseorang. 800 tahun, bisa dibilang."
Mereka menamai bayi itu—atas usul Cahaya—**Laras**, untuk ibu Sekar, nenek buyut sang bayi. Nama yang dicintai, hidup lagi.
Malam itu, Sekar membuka jendela kepalanya, dan berbicara pada hidup pertamanya—pada Sekar Wijaya, yang mati muda di tol Cawang.
"Sekar Wijaya. Aku tahu kamu di sana, bagian dari aku. Dengar—hari ini aku menggendong cucu. Sesuatu yang kamu nggak pernah dapat. Aku menggendongnya untuk kamu juga. Untuk hidupmu yang kepotong."
"Kita dapat sekarang. Hidup yang utuh. Sampai cucu. Sampai senja yang tenang."
"Istirahatlah, Sekar Wijaya. Hidupmu yang kepotong—sudah dilanjutkan. Sampai utuh."
(bersambung...)