Laras kecil—cucu Sekar—tumbuh, dan seperti banyak anak Atmaja, dia membawa kapasitas.
Tapi kali ini, ada tiga generasi yang memahaminya: ibunya Cahaya, neneknya Sekar, dan dirinya sendiri yang lahir ke keluarga paling siap di dunia.
Laras kecil tidak pernah merasa takut atau sendirian. Sejak bayi, dia dikelilingi orang yang mengerti.
Saat dia berumur lima, Sekar—neneknya—mulai bercerita padanya. Cerita keluarga, tapi disesuaikan untuk anak kecil.
"Laras kecil. Nenek mau cerita tentang seorang perempuan yang pulang ke rumah tiga kali."
"Tiga kali, Nenek?"
"Iya. Pertama dia hidup di kota besar, lalu pergi terlalu cepat. Kedua dia hidup jadi putri di istana, lama dan penuh. Ketiga—" Sekar tersenyum, "—ketiga dia hidup sekarang, jadi nenekmu, dan dia dapat hidup yang paling dia mau: hidup yang utuh, dengan cucu yang cantik bernama Laras."
Laras kecil membuka mata lebar. "Nenek—itu Nenek? Nenek yang pulang tiga kali?"
Sekar tertawa pelan. "Iya, sayang. Itu nenek. Tapi itu rahasia keluarga kita. Kamu akan ngerti lebih banyak saat kamu lebih besar."
"Nenek pernah jadi putri istana?"
"Pernah, dulu sekali. Tapi tahu nggak, sayang? Jadi putri istana itu bagus. Tapi jadi nenekmu—sekarang, di sini, bisa peluk kamu—itu jauh lebih nenek suka."
Laras kecil memeluk neneknya. "Aku juga suka Nenek jadi nenekku."
Sekar memeluk cucunya, dan di atas kepala mereka, di langit-langit kamar, tergantung sesuatu yang Sekar pasang sendiri: hiasan bintang-bintang kecil yang menyala dalam gelap. Bukan tradisi Atmaja—tapi sesuatu yang Sekar tambahkan, untuk cucunya, supaya tidak ada anak yang tidur dalam gelap.
"Nenek," kata Laras kecil mengantuk. "Cerita lagi. Tentang putri istana."
Dan Sekar bercerita—cerita tentang Anjani, putri buangan yang menemukan rumah, yang mencintai dan dicintai, yang hidup penuh—sampai cucunya tertidur.
Cerita yang sama yang Cahaya tulis 800 tahun lalu. Sekarang diceritakan oleh subjeknya sendiri, pada cucunya, di rumah yang sama.
Lingkaran, berputar, hangat.
(bersambung...)