Sekar dan Arga menua bersama, pelan, di rumah Solo.
Rambut mereka memutih. Langkah mereka melambat. Tapi cinta mereka—yang dimulai di teras perpustakaan kampus Yogyakarta puluhan tahun lalu—hanya tumbuh lebih dalam.
Mereka punya rutinitas. Pagi, kopi di teras, menatap matahari naik di balik atap-atap Solo. Siang, menerima keluarga yang datang dengan anak berkapasitas (lebih jarang sekarang—Cahaya mengambil alih sebagian besar). Sore, berjalan pelan di sekitar rumah. Malam, membaca berdampingan, kadang Arga membacakan puisi Cahaya keras-keras.
"Arga," kata Sekar suatu malam. "Aku mau bilang sesuatu."
"Apa, sayang?"
"Terima kasih. Untuk seluruh hidup ini."
Arga menurunkan bukunya. "Sekar, kenapa tiba-tiba?"
"Bukan tiba-tiba. Aku cuma... aku mikirin terus belakangan ini. Kamu tahu, di hidup pertamaku, aku nggak pernah punya ini. Sekar Jakarta mati sendirian, muda, di jalan tol. Nggak pernah tua bareng siapa-siapa."
Sekar menggenggam tangan suaminya—tangan yang sudah keriput, sama seperti tangannya.
"Dan sekarang aku tua, Arga. Bareng kamu. Rambut putih, jalan pelan, baca buku berdampingan. Ini... ini hal yang paling aku nggak pernah berani harap. Tua bareng orang yang aku cintai."
Arga mengangkat tangan istrinya, menciumnya pelan.
"Sekar. Aku yang terima kasih. Kamu kasih aku hidup yang luar biasa. Bukan karena reinkarnasi atau suara di kepala—tapi karena kamu, setiap hari, memilih untuk hadir, untuk mencintai, untuk hidup penuh."
"Kita masih punya waktu, kan, Arga?" tanya Sekar pelan. "Beberapa tahun lagi?"
"Beberapa tahun lagi," kata Arga. "Lalu, saat senja datang—untuk salah satu kita dulu—yang tinggal akan ingat: kita dapat ini. Hidup yang utuh. Tua bersama."
Sekar bersandar di bahu suaminya, di sofa rumah Solo, dua orang tua yang sudah menempuh seluruh hidup bersama.
"Senja yang tenang," bisiknya. "Akhirnya, aku akan dapat senja yang tenang."
"Kita berdua," kata Arga. "Sampai senja."
(bersambung...)