Tahun-tahun membawa lebih banyak cucu.
Cahaya dan Rendra punya dua anak: Laras kecil dan adiknya, seorang anak laki-laki bernama Arga kecil (untuk kakeknya). Damar dan istrinya di Surabaya punya tiga anak. Lima cucu untuk Sekar dan Arga.
Setiap liburan, rumah Solo penuh. Lima cucu berlarian di halaman tempat Sekar dulu bermain, tempat naskah Cahaya disimpan berabad-abad, tempat 800 tahun keluarga Atmaja berlabuh.
Sebagian cucu berkapasitas, sebagian tidak. Sekar memperlakukan mereka semua sama—dengan cerita, dengan kasih, dengan bintang-bintang kecil di langit-langit kamar tamu supaya tidak ada yang tidur dalam gelap.
Suatu sore liburan, dengan semua cucu berkumpul, Sekar duduk di teras dan menyaksikan mereka bermain. Arga di sampingnya.
"Lihat mereka, Arga," katanya. "Lima cucu. Berlarian. Tertawa. Hidup."
"Iya."
"Kamu tahu apa yang paling aku syukuri?"
"Apa?"
"Bahwa mereka biasa. Bukan beban dua hidup. Bukan kesepian. Cuma anak-anak yang bahagia, dicintai, bebas." Sekar tersenyum. "Itu yang aku perjuangkan seumur hidupku—di tiga hidup. Supaya generasi setelahku nggak perlu menderita. Dan lihat—mereka nggak menderita. Mereka cuma... bahagia."
Arga menggenggam tangannya. "Kamu yang bikin itu, Sekar. Kamu mematahkan rantainya."
Salah satu cucu—Laras kecil, yang berkapasitas—berlari ke teras.
"Nenek! Kakek! Ayo main!"
Sekar tertawa. "Nenek udah tua, sayang. Tapi Nenek lihatin kamu main, ya?"
"Nenek, nanti malam cerita lagi ya? Tentang putri istana?"
"Tentu, sayang. Tentu."
Laras kecil berlari kembali ke saudara-saudaranya.
Sekar menatap mereka semua—lima cucu, keluarga yang besar dan hangat dan hidup—dan merasakan sesuatu yang penuh, melimpah, hampir terlalu besar untuk ditampung satu hati.
"Arga," bisiknya. "Aku bahagia. Sangat. Lebih dari yang aku tahu mungkin."
"Aku juga, Sekar."
Matahari turun pelan di balik atap-atap Solo, mewarnai langit jingga keemasan.
Senja. Tapi senja yang tenang, yang hangat, dikelilingi keluarga.
Persis seperti yang dijanjikan, 800 tahun lalu.
(bersambung...)