Arga pergi lebih dulu, di usia delapan puluh.
Bukan mendadak—usia tua, tubuh yang lelah, pelan-pelan melambat. Dia punya waktu untuk berpamitan, dan dia menggunakannya dengan baik.
Di hari-hari terakhirnya, di tempat tidur di rumah Solo, dengan Sekar di sampingnya, dia berkata:
"Sekar. Aku nggak takut. Kamu sudah ajari aku—lewat seluruh hidup kita—bahwa kematian bukan akhir. Cuma pergantian ruangan."
Sekar menggenggam tangan suaminya, air mata mengalir. "Arga. Aku akan kehilangan kamu."
"Sebentar aja, Sekar. Kita berdua sudah tua. Kamu akan menyusul, suatu hari, nggak lama. Lalu kita bareng lagi." Arga tersenyum lemah. "Plus—kamu punya jendela kepala. Kamu bisa dengar aku, kapan pun kamu mau. Aku nggak akan benar-benar jauh."
"Aku tahu. Tapi tetap... aku akan rindu kamu yang hidup. Tanganmu. Tawamu. Kamu yang nyata di sebelahku."
Arga mengangkat tangan istrinya, menciumnya pelan—seperti di pernikahan mereka puluhan tahun lalu.
"Sekar Atmaja. Terima kasih. Kamu kasih aku hidup yang utuh. Kamu—jiwa yang menunggu 800 tahun untuk hidup penuh—kamu pilih menghabiskan hidup itu bersama aku. Aku nggak akan pernah cukup berterima kasih untuk itu."
"Arga. Aku cinta kamu. Di hidup ini—yang aku pilih sendiri—aku cinta kamu."
"Aku cinta kamu juga, Sekar. Sampai senja. Sampai setelahnya."
Arga menutup mata, dan pergi—pelan, tenang, di tidur, dengan tangan Sekar di tangannya.
Sekar duduk lama, memegang tangan suaminya yang mulai dingin.
Lalu dia membuka jendela kepalanya—dan menunggu.
Tidak lama. Suara Arga datang, sudah hangat, sudah tenang, dari ruangan yang baru.
*"Sekar. Aku sampai. Orangtuamu menyambut—Damar dan Laras. Cahaya juga, dan Adi. Mereka semua di sini. Jangan khawatir."*
"Arga," bisik Sekar. "Aku akan menyusul. Nggak lama."
*"Nggak buru-buru, Sekar. Hidup penuh dulu—sampai senja yang benar-benar tenang. Cucu-cucu masih butuh ceritamu. Lalu, saat waktumu datang—aku menunggu. Kita semua menunggu."*
Sekar menutup jendelanya, menyeka air mata, dan—seperti yang dia lakukan seumur hidup—bangkit untuk yang masih hidup. Untuk anak-anak. Untuk cucu-cucu. Untuk cerita yang masih harus diceritakan.
(bersambung...)