Sekar menjadi janda di usia tujuh puluh delapan.
Dan dia menjalani kehilangan itu dengan kebijaksanaan yang dia kumpulkan dari tiga hidup—dan dari menyaksikan, lewat ingatan dan jendela kepala, ratusan kehilangan leluhurnya.
Dia berduka. Tentu. Empat puluh tahun lebih bersama Arga tidak bisa dilepas tanpa air mata. Tapi dia tidak hancur. Karena dia tahu—lebih dari siapa pun—bahwa cinta tidak berakhir dengan kematian. Hanya berpindah ruangan.
Cahaya, putrinya, ingin Sekar pindah ke rumahnya. "Bunda, jangan sendirian di rumah Solo yang besar."
Tapi Sekar menolak dengan lembut. "Sayang, Bunda nggak sendirian. Bunda punya kamu, punya cucu-cucu yang datang. Punya anak-anak berkapasitas yang masih kadang berkunjung. Dan punya—" dia tersenyum, "—seluruh keluarga di jendela kepala, kapan pun Bunda mau."
"Tapi Bunda..."
"Cahaya. Rumah Solo ini—800 tahun keluarga kita. Bunda mau habiskan tahun-tahun terakhir di sini. Merawat kotak kayu. Bercerita pada cucu. Menulis surat terakhir Bunda. Di rumah leluhur."
Cahaya mengerti. Dia tidak memaksa.
Maka Sekar tinggal di rumah Solo, janda tua tapi tidak sendirian. Cucu-cucu datang bergantian. Cahaya berkunjung setiap beberapa hari. Anak-anak berkapasitas yang sudah dewasa—yang dulu Sekar tolong saat kecil—kadang datang untuk berterima kasih, membawa anak-anak mereka sendiri.
Rumah yang selalu terbuka, sampai akhir.
Suatu malam, sendirian di teras, Sekar menatap bintang-bintang Solo, dan berbicara pada Arga lewat jendela kepala.
"Arga. Aku tua sekarang. Sangat tua. Cucu-cucu sudah besar. Cerita sudah aku ceritakan berkali-kali. Surat terakhir sudah hampir aku tulis."
*"Kau hampir selesai, Sekar,"* jawab Arga, hangat. *"Hidup yang utuh, hampir penuh."*
"Iya. Hampir. Aku cuma... aku nggak takut, Arga. Untuk pertama kalinya di tiga hidup—aku nggak takut senja. Karena kali ini, senjaku tenang. Penuh. Dikelilingi cinta. Bukan kepotong kayak Sekar Jakarta. Bukan kewajiban kayak Anjani. Tapi pilihan, yang aku jalani sampai habis."
*"Itu yang kau tunggu 800 tahun, Sekar."*
"Iya. Dan sekarang aku hampir sampai. Senja yang tenang."
Sekar menatap bintang-bintang, tenang, tidak takut.
Hidupnya yang ketiga—yang utuh—hampir penuh.
(bersambung...)