Di usia delapan puluhan, Sekar tahu waktunya semakin dekat. Dan dia melakukan apa yang setiap penjaga keluarga Atmaja lakukan: dia menyiapkan penerus.
Dia memanggil Cahaya—putrinya, penyair, yang juga berkapasitas, yang sudah meneruskan pekerjaan menolong anak-anak.
"Cahaya. Duduk dengan Bunda."
Mereka duduk di ruang tengah rumah Solo, dengan kotak kayu keluarga di meja di antara mereka.
"Cahaya. Kotak ini—800 tahun lebih surat keluarga, dari Cahaya Majapahit sampai Bunda. Sekarang Bunda wariskan ke kamu. Kamu penjaga berikutnya."
Cahaya menyentuh kotak tua itu, terharu. "Bunda. Aku... aku siap."
"Bunda tahu kamu siap. Kamu sudah jadi penjaga sebenarnya bertahun-tahun—nolong anak-anak, jaga cerita, jaga keluarga. Ini cuma resmikan."
Sekar membuka kotak, menunjukkan surat-surat. "Baca semuanya, Cahaya. Termasuk surat Bunda. Lalu, suatu hari, tulis suratmu sendiri untuk generasi berikutnya. Rantai berlanjut—lewat kamu."
"Bunda. Aku punya pertanyaan."
"Apa, sayang?"
"Apakah... apakah jiwa Bunda akan kembali lagi? Hidup keempat? Aku harus menunggu, seperti keluarga menunggu Bunda dulu?"
Sekar menggeleng pelan, tersenyum.
"Nggak, Cahaya. Bunda pikir—nggak. Bunda kembali karena ada yang belum selesai: hidup yang utuh. Sekarang Bunda sudah jalani itu. Cinta, anak, cucu, karya, senja yang tenang. Lengkap. Bunda nggak punya alasan untuk kembali lagi."
"Jadi setelah Bunda pergi..."
"Setelah Bunda pergi, Bunda akan benar-benar pulang. Untuk pertama kalinya, beristirahat penuh. Bukan lari, bukan terpaksa lahir lagi. Cuma—istirahat, setelah hidup yang utuh. Itu hadiah yang Bunda tunggu 800 tahun."
Cahaya memeluk ibunya, menangis. "Tapi aku akan kehilangan Bunda."
"Kamu punya jendela kepala, sayang. Bunda akan ada di sana, bersama semua leluhur—Cahaya Majapahit, Adi, kakek Damar, nenek Laras, kakek Arga. Kapan pun kamu butuh, panggil Bunda. Bunda akan menjawab."
"Tapi jangan terlalu sering, kan?" Cahaya tersenyum lewat air mata, mengulang nasihat keluarga.
Sekar tertawa. "Iya. Jangan terlalu sering. Hidup di masa kini. Cintai yang hidup. Itu yang paling penting—yang Bunda pelajari, yang Bunda wariskan ke kamu."
(bersambung...)