Generasi demi generasi, keturunan Atmaja kadang berziarah ke Trowulan.
Ke bekas ibu kota Majapahit, ke pohon beringin tua tempat—800 tahun lebih lalu—tiga makam pernah berderet: Anjani, Adi, dan Cahaya Majapahit.
Makam-makam itu sudah lama hilang, ditelan waktu. Tapi pohon beringin masih ada—atau keturunannya, tumbuh dari tempat yang sama, akar yang menjuntai panjang menyentuh tanah.
Seorang keturunan muda Atmaja, berziarah ke sana, berlutut di bawah beringin dan membuka jendela kepalanya.
"Anjani," bisiknya pada leluhurnya yang paling jauh. "Putri buangan yang menemukan rumah. Sekar dari masa depan. Aku keturunanmu, jauh sekali. Aku datang untuk berterima kasih."
Dan dari ruangan sebelah, suara menjawab—hangat, tua, penuh damai. Suara yang dulu Sekar Jakarta, lalu Anjani Majapahit, lalu Sekar Atmaja. Satu jiwa, tiga hidup, sekarang beristirahat.
*"Terima kasih untuk apa, sayang?"*
"Untuk semuanya. Untuk bertahan, saat hidupmu kepotong di tol. Untuk hidup penuh, saat kamu jadi putri buangan. Untuk pulang sekali lagi, dan menggunakan hidupmu yang utuh untuk mengakhiri kesepian. Karena kamu—keluarga kami jadi keluarga yang menjaga, yang mencintai, yang tidak pernah membiarkan anak kesepian."
*"Itu bukan cuma aku, sayang. Itu seluruh keluarga. 800 tahun. Cahaya yang menulis. Tomo yang menemukan. Bumi yang membangun. Setiap penjaga, setiap surat di kotak kayu. Aku cuma satu mata rantai."*
"Tapi mata rantai yang penting."
*"Setiap mata rantai penting, sayang. Itu intinya. Tidak ada satu pahlawan. Cuma rantai panjang orang-orang biasa yang memilih mencintai, satu demi satu, generasi demi generasi."*
Keturunan muda itu menyentuh akar beringin tua.
"Anjani. Sekar. Apa pun namamu sekarang. Aku akan jadi mata rantai juga. Aku janji."
*"Bunda tahu kamu akan, sayang. Sekarang—tutup jendelanya. Pergi. Hidup. Cintai yang hidup. Itu yang paling penting. Itu yang selalu paling penting."*
Keturunan muda itu menutup jendelanya, berdiri, dan menatap pohon beringin tua sekali lagi—pohon yang menyaksikan 800 tahun keluarga, dari putri buangan sampai sekarang.
Lalu dia pergi—untuk hidup, di dunia yang hidup.
(bersambung...)