Maya—anak kesepian yang Sekar tolong dari ruangan sebelah—tumbuh dewasa, kuat, tidak lagi takut.
Dan dia menepati janjinya.
Dia menjadi konselor anak. Dan sepanjang hidupnya, dia mencari anak-anak seperti dirinya dulu—yang berbeda, yang mendengar suara, yang kesepian dan takut dan dianggap rusak. Dan dia menolong mereka, satu per satu, seperti Sekar menolongnya.
"Kamu tidak gila," katanya pada setiap anak. "Kamu cuma sensitif. Dan kamu tidak sendirian. Aku di sini. Dan ada orang lain yang mengerti."
Dia mengajari mereka mantra yang Sekar ajarkan padanya—mantra yang Pak Wirya ajarkan 800 tahun lebih lalu, di Majapahit, pada seorang putri buangan yang sebenarnya jiwa dari masa depan.
Maya tidak pernah tahu asal-usul mantra itu. Tidak tahu tentang Majapahit, tentang keluarga Atmaja, tentang naskah 800 tahun. Bagi Maya, mantra itu hanya "yang Nenek Sekar ajarkan."
Tapi lewat Maya, mantra itu—dan kasih sayang di baliknya—menyebar ke anak-anak yang sama sekali di luar keluarga Atmaja. Rantai yang dulu di dalam satu keluarga, sekarang menyebar ke dunia.
Suatu hari, di usia tuanya, Maya duduk dengan seorang anak yang baru dia tolong, dan anak itu bertanya:
"Bu Maya. Kenapa Ibu tahu cara menolong saya? Kenapa Ibu mengerti?"
Maya tersenyum—senyum yang penuh, dari seseorang yang hidupnya menjadi pemberian.
"Karena dulu, Nak, saat Ibu sekecil kamu, ada seseorang yang menolong Ibu. Seorang nenek baik bernama Sekar—yang Ibu dengar di kepala Ibu, yang Ibu tidak pernah lihat. Dia bilang: 'Suatu hari, tolong anak kesepian seperti kamu dulu.'"
"Jadi Ibu menolong saya karena ada yang menolong Ibu?"
"Iya, Nak. Dan suatu hari—saat kamu dewasa, saat kamu temukan anak kesepian—kamu akan menolong dia. Lalu dia akan menolong yang lain. Itu cara kasih sayang bekerja. Tidak pernah berhenti. Mengalir terus, dari hati ke hati."
Anak itu mengangguk. "Iya, Bu. Saya janji."
Dan di ruangan sebelah—tempat Sekar beristirahat dengan damai—jika seseorang bisa mendengar, mungkin ada suara tua yang hangat, tersenyum, berbisik:
*"Lihat. Rantainya tidak putus. Bahkan di luar keluargaku. Bahkan ke orang-orang yang tidak tahu namaku. Kasih sayang—mengalir terus."*
(bersambung...)