Trilogi cerita Sekar—tiga hidup, satu jiwa—terus dibaca, generasi demi generasi.
Naskah Cahaya Majapahit tetap di Museum Nasional, artefak berharga. Novel Ito Pradana tetap dicetak ulang, dibaca pembaca baru setiap generasi. Dan buku Cahaya Atmaja, "Sekar yang Pulang," melengkapi cerita—dibaca oleh mereka yang ingin tahu bagaimana kisah jiwa itu berakhir.
Tidak dengan kematian. Tapi dengan kepulangan. Dengan istirahat, setelah hidup yang utuh.
Anak-anak di sekolah membaca kisah Anjani sang putri buangan sebagai bagian dari sastra Indonesia. Sebagian percaya itu nyata, sebagian membaca sebagai fiksi. Tapi semua merasakan sesuatu yang sama: kehangatan, harapan, keyakinan bahwa hidup—bahkan yang terputus, bahkan yang sulit—pada akhirnya bisa menjadi utuh.
Seorang guru, generasi setelah Laras, menjelaskan pada muridnya:
"Kisah ini bukan tentang apakah reinkarnasi nyata. Itu tentang sesuatu yang lebih dalam. Tentang bagaimana hidup yang terputus bisa dilanjutkan. Tentang bagaimana kesepian bisa diakhiri. Tentang bagaimana kasih sayang—sekali ditanam—tidak pernah benar-benar hilang."
Seorang murid mengangkat tangan. "Bu, apakah Sekar benar-benar ada? Yang tewas di tol Cawang tahun 2026?"
Guru itu tersenyum—senyum yang sama yang dipakai guru-guru sebelumnya, lintas generasi, ditanya pertanyaan yang sama.
"Aku tidak tahu pasti, Nak. 800 tahun lebih sudah lewat. Tapi aku tahu satu hal yang pasti."
"Apa, Bu?"
"Bahwa ada keluarga yang menjaga cerita ini selama lebih dari 800 tahun. Yang memastikan tidak ada anak kesepian. Yang mewariskan kasih sayang, dari generasi ke generasi, tanpa putus. Itu nyata. Itu bisa kita lihat. Dan itu—itu lebih penting dari apakah reinkarnasi benar atau tidak."
Murid itu mengangguk, puas.
Dan cerita Sekar—Anjani—Sekar Atmaja—terus hidup. Bukan sebagai dongeng tentang masa lalu, tapi sebagai pengingat tentang sesuatu yang abadi: bahwa kasih sayang tidak pernah hilang, dan tidak ada yang harus kesepian.
(bersambung...)