Rumah Atmaja di Solo terus berdiri, generasi demi generasi.
Laras menjaganya setelah Cahaya. Lalu anak Laras. Lalu cucunya. Rumah tua yang sudah menyimpan naskah Majapahit berabad-abad, tempat Sekar lahir kembali, tempat 800 tahun lebih keluarga berlabuh.
Dan rumah itu tetap menjadi apa yang Sekar inginkan: bukan museum, tapi rumah yang selalu terbuka. Tempat keluarga-keluarga dengan anak berbeda datang, dari seluruh negeri, dan menemukan seseorang yang mengerti.
Tradisi itu tidak pernah resmi. Tidak ada papan nama, tidak ada lembaga. Hanya pengetahuan yang menyebar dari mulut ke mulut: "Kalau anakmu berbeda, kalau dia mendengar suara, kalau tidak ada yang mengerti—pergi ke rumah Atmaja di Solo. Mereka mengerti di sana."
Dan generasi demi generasi keluarga Atmaja menyambut mereka—dengan teh, dengan mendengarkan, dengan mantra Pak Wirya yang sudah berusia lebih dari seribu tahun, dengan kebijaksanaan yang diwariskan dari Sekar, dari Cahaya, dari semua leluhur.
Di kamar tamu rumah itu, di langit-langit, selalu ada hiasan bintang-bintang kecil yang menyala dalam gelap—dipasang ulang setiap generasi, dijaga, tidak pernah dihilangkan. Supaya tidak ada anak yang tidur dalam gelap.
Bukan tradisi Majapahit. Bukan tradisi 800 tahun. Tapi tradisi yang Sekar mulai, di hidup ketiganya, untuk cucunya—dan yang sekarang menjadi bagian dari rumah selamanya.
Setiap anak berkapasitas yang menginap di rumah Solo, tidur di bawah bintang-bintang itu, dan—kata mereka—tidur paling nyenyak yang pernah mereka rasakan.
Seolah seluruh keluarga Atmaja, 800 tahun, yang hidup dan yang sudah pergi, menjaga mereka di malam itu.
Seolah Sekar sendiri—nenek yang baik di ruangan sebelah—mengawasi setiap anak yang tidur di bawah bintang-bintangnya, dan berbisik pelan:
*"Tidur, sayang. Kamu tidak sendirian. Kamu tidak akan pernah sendirian."*
(bersambung...)