Maya kecil tumbuh dengan suara penuntun yang tidak pernah meninggalkannya—suara nenek yang baik bernama Sekar, yang mengajarinya, menjaganya, membuatnya tidak pernah kesepian.
Dan ada keindahan yang dalam di sini, yang hanya Sekar sendiri yang sepenuhnya pahami.
Karena 800 tahun lalu—lebih, sekarang—saat Sekar lahir kembali sebagai anak yang mengingat dua hidup, kesepian dan takut, dia ditolong oleh suara dari jendela kepala. Suara Cahaya Majapahit, anaknya, yang menuntunnya: "Hidup di masa kini. Cintai yang hidup. Kamu tidak sendirian."
Sekarang Sekar melakukan hal yang sama. Untuk Maya. Untuk anak kesepian yang tidak punya keluarga yang mengerti.
Lingkaran berbalik. Yang dulu ditolong, sekarang menolong. Yang dulu dituntun, sekarang menuntun.
Maya tidak tahu siapa Sekar sebenarnya—tidak tahu tentang tol Cawang, tentang Majapahit, tentang keluarga Atmaja dan naskah 800 tahun. Bagi Maya, Sekar hanya "nenek baik di kepalaku yang menjagaku."
Dan itu cukup.
Karena yang penting bukan cerita. Bukan nama. Bukan sejarah. Yang penting adalah kasih sayang—yang mengalir, dari yang sudah pergi ke yang hidup, dari yang mengerti ke yang kesepian, dari satu hati ke hati lain.
Saat Maya berumur lima belas, kuat dan tidak lagi takut, dia bertanya pada suara penuntunnya:
"Nenek Sekar. Kenapa Nenek nolongin aku? Kita kan nggak ada hubungan apa-apa."
Dan Sekar—jiwa yang pulang tiga kali, yang beristirahat dengan damai tapi tetap menjaga—menjawab:
*"Karena dulu, sayang, seseorang menolongku saat aku kesepian. Dan aku berjanji—pada diriku sendiri, lewat seluruh hidupku—untuk memastikan tidak ada anak yang kesepian seperti aku dulu."*
*"Kamu bukan keluargaku lewat darah, Maya. Tapi kamu keluargaku lewat sesuatu yang lebih dalam: kita berdua jiwa yang sensitif, yang merasakan terlalu banyak, yang butuh seseorang berkata 'kamu tidak sendirian.'"*
*"Jadi suatu hari, Maya—saat kamu dewasa, saat kamu temukan anak kesepian seperti kamu dulu—tolong dia. Lanjutkan. Itu satu-satunya yang aku minta. Itu cara kasih sayang tidak pernah hilang."*
"Iya, Nenek Sekar," bisik Maya. "Aku janji. Aku akan lanjutkan."
(bersambung...)