Bertahun-tahun setelah Sekar pergi, di sebuah kota kecil, lahir seorang anak perempuan yang mendengar suara.
Dia tidak ada hubungan darah dengan keluarga Atmaja. Hanya anak biasa, di keluarga biasa, yang kebetulan lahir dengan kapasitas—seperti satu persen anak di mana pun di dunia.
Tapi keluarganya tidak mengerti. Mereka membawanya ke dokter, ke psikiater, ke orang pintar. Tidak ada yang menolong. Anak itu—namanya Maya—tumbuh kesepian, takut, merasa gila, merasa sendirian.
Persis seperti Sekar dulu, sebelum keluarganya mengerti.
Suatu malam, Maya kecil—umur delapan, putus asa, menangis di kamarnya yang gelap—membuka "jendela kepala"-nya tanpa tahu itu namanya, tanpa tahu mantra perlindungan, tanpa siapa pun yang mengajarinya.
Dan di antara suara-suara yang menakutinya, dia mendengar satu suara yang berbeda. Hangat. Tenang. Seperti nenek yang baik.
*"Halo, sayang. Jangan takut. Kamu tidak gila."*
Maya kecil berhenti menangis. "Siapa?"
*"Namaku Sekar. Aku... aku pernah jadi anak seperti kamu. Kesepian. Takut. Mendengar suara. Aku tahu persis rasanya."*
"Kamu... kamu juga dengar suara?"
*"Dulu. Lama sekali. Tapi seseorang mengajariku—aku tidak rusak. Aku cuma sensitif. Dan aku belajar cara hidup dengannya. Sekarang aku mau ajari kamu, supaya kamu tidak kesepian seperti aku dulu."*
Dan Sekar—dari ruangan sebelah, tempat dia beristirahat dengan damai—mengajari anak kecil yang kesepian itu mantra yang Pak Wirya ajarkan 800 tahun lalu:
*"Ulangi dalam hati, sayang. 'Aku adalah aku. Pikiranku milikku. Suara yang datang adalah tamu, bukan tuan. Aku yang pegang pintu.'"*
Maya kecil mengulangi, pelan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, suara-suara yang menakutinya mundur ke jarak yang sopan.
Dia tidak lagi sendirian. Tidak lagi takut.
*"Bagus, sayang,"* bisik Sekar. *"Kamu kuat. Kamu akan baik-baik saja. Dan kapan pun kamu butuh aku—panggil. Aku akan ada. Kamu tidak sendirian. Tidak akan pernah."*
(bersambung...)