Tahun-tahun berlalu, dan Cahaya—putri Sekar, penyair, penjaga cerita—menjadi tua.
Dia menjalani hidup yang baik. Menulis puisi yang dicintai. Melanjutkan pekerjaan menolong anak berkapasitas. Membesarkan Laras dan adiknya. Menjadi nenek, lalu buyut.
Dan, seperti ibunya, dia tidak takut menua. Dia tahu—dari ibunya, dari 800 tahun keluarga—bahwa hidup yang utuh dijalani sampai senja yang tenang adalah hadiah, bukan hal yang ditakuti.
Di usia delapan puluhan, Cahaya memanggil Laras—putrinya, sekarang juga sudah paruh baya, psikolog anak yang dihormati.
"Laras. Saatnya."
"Saat apa, Bunda?"
Cahaya membawa kotak kayu keluarga ke meja. Kotak yang Cahaya Majapahit mulai 800 tahun lebih lalu. Yang Sekar wariskan padanya. Yang sekarang akan dia wariskan.
"Kotak ini. Penjagamu sekarang, Laras. Surat-surat dari setiap generasi—termasuk surat Nenek Sekar, dan suratku yang akan aku tambahkan."
Laras menyentuh kotak tua itu, terharu. "Bunda. Aku siap."
"Bunda tahu. Kamu sudah jadi penjaga bertahun-tahun. Ini cuma resmikan." Cahaya tersenyum. "Baca semuanya, Laras. Lalu tulis suratmu sendiri. Lanjutkan rantai. Seperti Cahaya Majapahit, seperti Nenek Sekar, seperti Bunda."
"Bunda. Aku akan jaga."
"Bunda tahu kamu akan." Cahaya menggenggam tangan putrinya. "Dan suatu hari, kamu akan wariskan ke anakmu, atau cucumu. Rantai berlanjut. 800 tahun, dan terus."
Cahaya menulis suratnya untuk generasi berikutnya—pendek, karena dia sudah mengatakan banyak lewat puisinya seumur hidup:
*"Untuk yang akan datang. Aku Cahaya, putri Sekar yang pulang tiga kali. Aku menulis hidup ketiga ibuku, seperti Cahaya Majapahit menulis hidup keduanya. Dua Cahaya, lintas 800 tahun, menjaga cerita yang sama."*
*"Pesanku: jaga kasih sayangnya, bukan ceritanya. Dan jangan biarkan ada anak kesepian. Itu yang ibuku perjuangkan. Itu yang kalian harus lanjutkan."*
*"Senja selalu datang. Tapi pagi juga, selalu, kembali. — Cahaya."*
Dia memasukkan suratnya ke kotak, dan menutupnya—lalu menyerahkannya pada Laras.
Rantai berlanjut.
(bersambung...)