Anak-anak yang Sekar tolong dulu, tumbuh dewasa—dan banyak dari mereka, tanpa diminta, melanjutkan apa yang Sekar mulai.
Mereka yang dulu anak kesepian yang dibuat tidak sendirian oleh seorang perempuan di Solo—sekarang menjadi orang dewasa yang membuat anak lain tidak sendirian. Guru, konselor, orangtua, dokter, seniman—tersebar di seluruh Indonesia, masing-masing membawa satu hal yang sama: pemahaman bahwa anak yang berbeda tidak rusak, hanya butuh dipahami.
Rantai yang Sekar mulai—atau lanjutkan, dari leluhurnya—terus memanjang, dari satu hati ke hati lain, jauh melampaui keluarga Atmaja.
Salah satu dari mereka, seorang perempuan bernama Ratri yang dulu Sekar tolong saat berumur tujuh, sekarang menjalankan komunitas untuk anak-anak berkapasitas di Surabaya. Dia datang ke rumah Solo suatu hari, membawa anaknya sendiri.
"Bu Cahaya," katanya pada Cahaya. "Saya datang untuk berterima kasih. Ibu Anda—Bu Sekar—menyelamatkan hidup saya saat saya tujuh tahun. Saya dulu mau bunuh diri, umur tujuh, karena saya pikir saya gila, mendengar suara. Bu Sekar yang bilang saya tidak gila. Saya cuma sensitif. Dan dia ajari saya cara hidup."
Ratri menatap anaknya sendiri, yang juga berkapasitas.
"Sekarang saya lakukan untuk anak-anak lain apa yang Bu Sekar lakukan untuk saya. Dan anak-anak yang saya tolong, suatu hari, akan menolong yang lain. Rantai itu—rantai yang Bu Sekar perpanjang—tidak akan putus."
Cahaya memeluk Ratri, terharu.
"Ibu saya akan sangat bahagia mendengar ini," katanya. "Itu satu-satunya yang dia inginkan—mengakhiri kesepian. Lewat Anda, lewat anak Anda, lewat anak-anak yang mereka tolong—dia berhasil. Lebih dari yang dia tahu."
Malam itu, Cahaya membuka jendela kepala dan menceritakan pada ibunya tentang Ratri.
*"Cahaya,"* jawab Sekar, dan suaranya terdengar... penuh, melimpah. *"Itu... itu lebih dari yang Bunda berani harapkan. Satu anak yang Bunda tolong, menolong yang lain, yang menolong yang lain lagi. Rantai kasih sayang, memanjang tanpa batas. Itu... itu warisan yang sebenarnya, Cahaya. Bukan cerita. Bukan naskah. Tapi kesepian yang berakhir, hati demi hati, generasi demi generasi."*
(bersambung...)