Laras muda menepati janjinya pada neneknya: dia hidup penuh.
Dia tidak menghabiskan masa mudanya bicara dengan yang sudah pergi, meski kapasitasnya kuat dan dia bisa mendengar Sekar kapan pun dia mau. Dia mengingat nasihat neneknya—dan nasihat yang neneknya terima dari Cahaya Majapahit 800 tahun lalu: hidup di masa kini, cintai yang hidup.
Maka Laras hidup. Dia kuliah, menemukan minatnya pada psikologi anak—pilihan yang masuk akal untuk seseorang yang tumbuh menolong anak berkapasitas. Dia jatuh cinta, dengan seorang pemuda bernama Bima yang menerima dunianya. Dia menikah, membangun hidup.
Dan dia melanjutkan pekerjaan keluarga—menolong anak-anak berbeda—tapi dengan keahlian baru: psikologi modern, digabung dengan kebijaksanaan 800 tahun keluarga.
Suatu hari, di usia tiga puluhan, Laras duduk dengan Cahaya—ibunya sekarang tua—di teras rumah Solo.
"Bunda," kata Laras. "Aku mikirin Nenek Sekar terus belakangan ini."
"Kenapa, sayang?"
"Dia kembali, hidup ketiga, untuk hidup yang utuh. Tapi aku sadar—dia menghabiskan hidup utuhnya itu untuk orang lain. Untuk mengakhiri kesepian anak-anak. Untuk kita." Laras menatap ibunya. "Aku mau hidupku begitu juga, Bunda. Penuh, tapi diberikan. Bukan disimpan."
Cahaya tersenyum, mata tua berkaca. "Itu... itu persis yang Nenek-mu harapkan, Laras. Bahwa kebijaksanaannya mengalir ke kamu—bukan lewat ingatan reinkarnasi, tapi lewat teladan. Lewat hidup yang dia jalani."
"Bunda. Boleh aku buka jendela kepala? Aku mau bilang sesuatu ke Nenek."
"Tentu, sayang. Tapi singkat ya."
Laras menutup mata, membuka jendelanya, dan memanggil.
"Nenek. Aku menepati janjiku. Aku hidup penuh. Aku jatuh cinta, aku bikin karya, aku nolong anak-anak. Dan aku mau hidupku jadi pemberian, kayak hidup Nenek."
Suara Sekar, hangat dan bangga:
*"Laras. Nenek dengar. Nenek bangga, sayang. Lebih dari kata-kata bisa katakan. Sekarang—tutup jendelanya. Pergi. Hidup. Cintai Bima, cintai anak-anakmu nanti, cintai anak-anak yang kamu tolong. Itu hidup. Di luar sana."*
Laras menutup jendelanya, tersenyum, dan kembali pada hidupnya—yang penuh, yang diberikan.
(bersambung...)