Buku Cahaya—"Sekar yang Pulang"—menjadi pelengkap dari sebuah trilogi yang membentang 800 tahun.
Buku pertama: naskah Cahaya Majapahit, "Anjani: Sekar dari Masa Depan"—hidup kedua, ditulis 800 tahun lalu.
Buku kedua: novel Ito Pradana, "Saya Lahir Kembali Jadi Putri Buangan"—adaptasi modern hidup pertama-dan-kedua, yang viral 800 tahun setelah Anjani.
Buku ketiga: "Sekar yang Pulang"—hidup ketiga, yang menutup lingkaran.
Cahaya memutuskan untuk menerbitkan buku ketiga—tapi seperti ibunya, dengan kerendahan hati. Bukan untuk viral, bukan untuk terkenal. Hanya supaya cerita itu lengkap, dan supaya pembaca yang dulu mencintai kisah Sekar-Anjani tahu: jiwa itu akhirnya mendapat hidup yang utuh.
Pembaca yang membaca ketiga buku—lintas 800 tahun penulisan—menemukan sesuatu yang jarang ada dalam sastra: kisah satu jiwa, melintasi tiga kehidupan, ditulis oleh tiga generasi yang berbeda, ratusan tahun terpisah, namun membentuk satu cerita utuh.
Seorang pembaca menulis surat pada Cahaya:
*"Saya membaca ketiga buku berturut-turut. Saya menangis di akhir buku ketiga. Karena setelah 800 tahun—setelah hidup yang kepotong di tol, setelah hidup yang penuh tapi bukan pilihan di Majapahit—jiwa itu akhirnya mendapat hidup yang utuh dan dipilih sendiri. Dan dia menggunakannya untuk apa? Untuk memastikan tidak ada anak kesepian. Itu... itu hal terindah yang pernah saya baca."*
Cahaya membaca surat itu di teras rumah Solo, dan membuka jendela kepalanya.
"Bunda. Pembaca menangis baca hidup ketiga Bunda. Mereka bilang—Bunda menggunakan hidup yang utuh untuk mengakhiri kesepian anak-anak. Mereka bilang itu terindah."
*"Cahaya,"* jawab Sekar, hangat. *"Itu memang tujuannya. Hidup yang utuh bukan untuk dinikmati sendiri. Itu untuk diberikan. Bunda dapat hidup utuh, lalu Bunda berikan—pada anak-anak yang kesepian, supaya mereka juga bisa hidup utuh suatu hari."*
"Rantai itu, Bunda."
*"Iya, sayang. Rantai kasih sayang. Yang tidak pernah putus. 800 tahun, dan masih berputar. Lewat kamu sekarang. Lewat Laras nanti. Lewat semua yang akan datang."*
Cahaya menutup jendelanya, dan menatap senja Solo, hatinya penuh.
(bersambung...)