Beberapa bulan setelah Sekar pergi, Cahaya memutuskan sesuatu.
Dia akan menulis hidup ibunya. Hidup yang ketiga.
Karena ada paralel yang terlalu indah untuk diabaikan: 800 tahun lalu, Cahaya Majapahit—putri Sekar di hidup kedua—menulis biografi ibunya, "Anjani: Sekar dari Masa Depan," supaya cerita itu tidak hilang. Naskah yang diturunkan 800 tahun, yang akhirnya dibaca Sekar saat dia lahir kembali.
Dan sekarang Cahaya Atmaja—putri Sekar di hidup ketiga, yang membawa nama penyair Majapahit itu—akan menulis hidup ketiga ibunya.
Lingkaran yang sempurna. Dua Cahaya, terpisah 800 tahun, masing-masing menulis hidup ibu mereka yang sama.
Cahaya menggunakan semuanya: ingatannya sendiri, surat-surat Sekar di kotak kayu, catatan-catatan keluarga, dan—untuk detail yang dia tidak tahu—membuka jendela kepala sesekali untuk bertanya pada ibunya langsung.
*"Cahaya,"* kata Sekar suatu kali lewat jendela kepala, saat Cahaya menulis. *"Kamu menulis hidup Bunda? Seperti Cahaya Majapahit menulis Anjani?"*
"Iya, Bunda. Supaya lengkap. Tiga hidup, satu cerita."
*"Cahaya Majapahit pasti bangga. Dua putri Bunda, lintas 800 tahun, sama-sama penjaga cerita."*
"Bunda. Apa judulnya nanti?"
Sekar diam sejenak. Lalu:
*"Sekar Majapahit dulu, Cahaya menulis 'Sekar dari Masa Depan'—karena Sekar Jakarta datang dari masa depan ke Majapahit. Sekarang... mungkin judulnya 'Sekar yang Pulang.' Karena hidup ketiga ini tentang pulang. Pulang untuk hidup utuh. Pulang untuk istirahat."*
"'Sekar yang Pulang,'" ulang Cahaya pelan. "Iya, Bunda. Itu judulnya."
Cahaya menulis selama setahun. Hidup ketiga ibunya—dari anak yang mengingat dua hidup, sampai perempuan tua yang menanti senja dengan damai. Kisah jiwa yang akhirnya mendapat apa yang dia tunggu 800 tahun: hidup yang utuh.
Saat selesai, Cahaya menjilidnya, dan menaruhnya di rak rumah Solo—di sebelah naskah replika Cahaya Majapahit, dan novel Ito Pradana, dan semua buku keluarga.
Tiga hidup. Satu jiwa. Satu cerita yang akhirnya lengkap.
(bersambung...)