Tiga hari setelah pemakaman, Cahaya membuka jendela kepalanya untuk pertama kalinya sejak ibunya pergi.
Dia takut—takut tidak mendengar apa-apa, takut ibunya benar-benar hilang. Tapi dia memanggil, pelan:
"Bunda. Bunda di sana?"
Hening sejenak. Lalu—hangat, tenang, damai dengan cara yang Cahaya belum pernah dengar dari ibunya—suara Sekar.
*"Cahaya. Bunda di sini, sayang."*
Air mata Cahaya mengalir. "Bunda. Bagaimana di sana?"
*"Tenang, Cahaya. Lebih tenang dari yang Bunda bayangkan. Untuk pertama kalinya di tiga hidup, Bunda istirahat penuh. Tidak ada beban. Tidak ada hidup yang kepotong. Tidak ada yang belum selesai."*
*"Bapak Arga di sini. Kakek Damar, Nenek Laras. Cahaya Majapahit—anak Bunda yang dulu. Adi. Bibi Yi. Semua. Kami semua di sini, bersama. Bahagia."*
Cahaya terisak. "Bunda. Aku rindu."
*"Bunda tahu, sayang. Bunda juga. Tapi dengar—jangan sedih lama. Dan jangan sering-sering buka jendela ini. Ingat yang Bunda ajari—yang Cahaya Majapahit ajari Bunda dulu."*
"Hidup di masa kini. Cintai yang hidup."
*"Iya, sayang. Itu. Bunda sudah hidup penuh. Bunda tidak butuh ditangisi. Yang Bunda mau—satu-satunya hal—adalah kamu, dan Laras, dan semua, hidup penuh juga. Itu hadiah terbesar untuk Bunda."*
*"Tutup jendelanya sekarang, Cahaya. Pergi peluk anak-anakmu. Lanjutkan pekerjaan—anak-anak berkapasitas masih butuh. Hidup. Itu yang Bunda minta."*
"Iya, Bunda. Aku cinta Bunda."
*"Bunda cinta kamu, Cahaya. Selalu. Dari ruangan sebelah. Kapan pun kamu benar-benar butuh—Bunda di sini. Tapi sebagian besar waktu—hidup di luar sana. Di dunia yang hidup."*
Cahaya menutup jendela kepalanya, pelan. Suara ibunya memudar—hangat, tenang, penuh cinta.
Dia menyeka air mata, lalu turun ke ruang tengah, di mana suaminya Rendra dan anak-anaknya menunggu.
Ibunya benar. Hidup ada di sini—di dunia yang hidup, dengan orang-orang yang hidup.
Dan Sekar—akhirnya, setelah 800 tahun—beristirahat dengan damai di ruangan sebelah, menunggu, tapi tidak terburu-buru, sambil seluruh keluarganya terus hidup.
(bersambung...)