Pemakaman Sekar di Solo, di sebelah Arga, dekat makam Damar dan Laras orangtuanya.
Keluarga besar berkumpul—anak, cucu, cicit yang mulai ada. Plus orang-orang yang tidak terhitung: keluarga-keluarga dengan anak berkapasitas yang Sekar tolong selama puluhan tahun, datang dari seluruh Indonesia untuk mengantar perempuan yang membuat anak mereka tidak merasa sendirian.
Cahaya memimpin doa, suaranya tenang meski matanya basah.
"Bunda saya, Sekar Atmaja, adalah jiwa yang pulang tiga kali. Sekar Wijaya di Jakarta, yang pergi terlalu muda. Anjani di Majapahit, putri buangan yang menemukan rumah. Dan Sekar Atmaja—yang akhirnya, setelah 800 tahun, mendapat hidup yang utuh."
"Bunda mengajari kami banyak hal. Tapi yang terpenting ini: jangan biarkan ada anak kesepian. Bunda kembali, dia bilang, untuk mengakhiri kesepian—kesepian yang dia rasakan saat kecil, yang dirasakan setiap anak berbeda sebelum dia."
Cahaya menatap kerumunan—keluarga-keluarga yang anaknya Sekar tolong.
"Lihat sekeliling. Semua orang ini di sini karena Bunda. Karena Bunda memastikan anak mereka tidak sendirian. Itu warisan Bunda. Bukan naskah, bukan cerita reinkarnasi. Tapi ratusan anak yang tumbuh tahu mereka dicintai dan dipahami."
"Bunda. Selamat istirahat. Akhirnya, benar-benar istirahat. Bersama Bapak Arga, Kakek Damar, Nenek Laras, dan semua leluhur 800 tahun. Kami akan jaga apa yang Bunda mulai."
Setelah pemakaman, keluarga pulang ke rumah Solo. Rumah yang terasa sunyi tanpa Sekar—tapi sunyi yang damai, bukan sunyi yang hampa.
Laras muda naik ke kamar tempat dulu neneknya bercerita, dan menatap hiasan bintang-bintang kecil yang Sekar pasang di langit-langit—supaya tidak ada anak tidur dalam gelap.
"Nenek," bisiknya pada bintang-bintang. "Aku akan jaga janjiku. Aku akan hidup penuh. Dan aku akan jagain bintang-bintang ini, supaya nggak ada anak yang gelap."
Bintang-bintang kecil bersinar redup, seperti menjawab.
(bersambung...)