Sekar Atmaja pergi di usia delapan puluh enam, di rumah Solo, di sore yang bersenja keemasan.
Dia pergi dengan tenang—seperti yang dia tunggu 800 tahun. Di tempat tidurnya, di rumah leluhur, dikelilingi keluarga: Cahaya memegang satu tangan, Laras muda memegang yang lain, Damar dan anak-anaknya berdiri di sekeliling.
Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ketakutan. Hanya, perlahan, seperti matahari yang turun di balik atap-atap Solo—lembut, damai, tanpa perlawanan.
Kata-kata terakhirnya, untuk Cahaya:
"Cahaya. Jaga kotaknya. Jaga kasih sayangnya. Jangan biarkan ada anak kesepian seperti Nenek dulu."
"Iya, Bunda. Aku janji."
Lalu, untuk Laras muda:
"Laras. Hidup penuh, sayang. Jangan tinggal di masa lalu. Cintai yang hidup."
"Iya, Nenek."
Lalu Sekar menutup mata, dan tersenyum—senyum seseorang yang akhirnya, setelah tiga kehidupan, akan benar-benar beristirahat.
"Aku pulang," bisiknya, hampir tidak terdengar. "Akhirnya... benar-benar pulang."
Dan napasnya melambat, satu per satu, sampai berhenti—di senja yang tenang, yang utuh, yang dia tunggu selama 800 tahun.
Sekar—jiwa yang mati di tol Cawang, yang hidup sebagai putri Majapahit, yang lahir kembali untuk satu hidup utuh—pergi untuk beristirahat penuh.
Bukan untuk reinkarnasi lagi. Bukan untuk lari. Bukan karena terpaksa.
Tapi untuk pulang. Beristirahat. Setelah hidup yang lengkap, dijalani sampai habis, dengan cinta.
Cahaya duduk memegang tangan ibunya yang mulai dingin, air mata mengalir, tapi—anehnya—dengan kedamaian.
Karena dia tahu, lebih dari kebanyakan orang, bahwa ibunya tidak hilang. Hanya berpindah ruangan. Untuk pertama kalinya dalam tiga kehidupan, benar-benar pulang.
Di luar jendela, senja Solo turun penuh—jingga, ungu, keemasan—lalu memudar jadi malam.
Dan esok pagi, seperti selalu, matahari akan kembali.
(bersambung...)