Sepulang dari Trowulan, Sekar tahu—dengan ketenangan seseorang yang sudah menyaksikan banyak senja—bahwa waktunya tinggal sedikit.
Dia tidak takut. Justru sebaliknya. Untuk pertama kalinya di tiga hidup, dia menanti senja dengan damai.
Sekar Wijaya tidak pernah menanti—dia direnggut mendadak, di tol Cawang, tanpa pamit. Anjani menanti, tapi dengan hidup yang bukan sepenuhnya pilihannya. Tapi Sekar Atmaja—dia menanti senja setelah hidup yang utuh dan dipilih sendiri. Senja yang berbeda. Senja yang tenang.
Dia menghabiskan minggu-minggu terakhirnya dengan sederhana. Duduk di teras setiap sore, menyaksikan matahari turun di balik atap-atap Solo. Cahaya datang setiap hari. Cucu-cucu bergantian menemani. Laras muda paling sering—membaca puisi untuk neneknya, atau sekadar duduk diam, memegang tangannya.
Suatu sore, dengan Laras muda di sampingnya, Sekar menatap senja yang sangat indah—langit jingga, ungu, keemasan, membentang di atas Solo.
"Laras," katanya pelan.
"Iya, Nenek."
"Lihat senja itu."
"Indah, Nenek."
"Iya. Indah." Sekar tersenyum. "Tahu nggak, Nenek pernah punya anak—dari hidup lalu—yang nulis buku puisi judulnya 'Senja Selalu.' Dan kamu—nama Nenek, dari nenek Nenek—nulis puisi judulnya 'Senja yang Selalu Kembali.'"
"Iya, Nenek."
"Senja selalu datang, sayang. Itu kebenaran. Semua hidup berakhir, semua matahari turun. Tapi—" Sekar menggenggam tangan cucunya, "—pagi juga, selalu, kembali. Itu kebenaran yang lain. Senja Nenek datang sebentar lagi. Tapi pagi—pagi akan kembali. Lewat kamu. Lewat anak-anakmu. Lewat semua yang Nenek cintai dan tinggalkan."
Laras muda menangis, memegang tangan neneknya.
"Jangan menangis, sayang," bisik Sekar. "Senja Nenek tenang. Itu yang Nenek tunggu 800 tahun. Hidup yang utuh, sampai senja yang damai. Nenek bahagia. Sangat."
Mereka duduk bersama, nenek dan cucu, menyaksikan senja turun di atas Solo.
Dan Sekar—jiwa yang pulang tiga kali—menanti, dengan damai, senja terakhirnya.
Yang tenang. Yang utuh. Yang akhirnya, benar-benar, miliknya.
(bersambung...)