Di usia delapan puluh enam, Sekar minta dibawa ke Trowulan untuk terakhir kalinya.
Cahaya dan Laras muda mengantarnya—perjalanan yang melelahkan untuk tubuh tua, tapi Sekar bersikeras. Dia tahu ini ziarah terakhir.
Mereka membawanya ke tempat yang dia kenali puluhan tahun lalu, saat dia sepuluh tahun—bekas paviliun penyair, dan pohon beringin tua tempat tiga makam dulu berderet: Anjani, Adi, Cahaya Majapahit.
Sekar duduk di kursi roda di bawah beringin, menatap tanah tempat dia—sebagai Anjani—pernah dimakamkan, 800 tahun lalu.
"Di sini," bisiknya. "Di sini Anjani beristirahat, dulu. Setelah hidup yang penuh."
Dia menutup mata, dan membuka jendela kepalanya—lebar, kali ini, tanpa takut.
Dan dia merasakan mereka semua. Anjani—dirinya yang kedua. Adi—suaminya yang kedua. Cahaya Majapahit—anaknya yang menulis cerita. Damar dan Laras, orangtuanya. Arga, suaminya. Seluruh keluarga, lintas 800 tahun, hadir.
"Aku hampir pulang," bisik Sekar pada mereka semua. "Hidupku yang ketiga—hampir utuh. Sebentar lagi, aku istirahat. Bersama kalian."
Suara-suara menjawab, hangat, menyambut, dari ruangan yang akan segera dia masuki.
*"Kami menunggu, Sekar. Tidak buru-buru. Tapi kami di sini, saat kau siap."*
Sekar membuka mata, air mata mengalir di pipi tuanya, tapi tersenyum.
"Cahaya," katanya pada putrinya. "Laras. Terima kasih sudah bawa Nenek ke sini. Nenek perlu... perlu menutup lingkaran. Di tempat Anjani beristirahat. Sebelum Nenek beristirahat juga."
Laras muda berlutut di samping kursi roda neneknya. "Nenek. Apa yang Nenek rasakan?"
Sekar menatap pohon beringin, langit Trowulan, tanah tempat dua kehidupan lalu berlabuh.
"Damai, sayang. Lengkap. Tiga hidup—Jakarta yang kepotong, Majapahit yang penuh tapi bukan pilihan, dan Solo yang utuh dan dipilih sendiri. Sekarang ketiganya... selesai. Lingkaran tertutup."
Dia mengulurkan tangan tuanya, menyentuh kulit pohon beringin.
"Sampai jumpa, Anjani," bisiknya pada dirinya sendiri dari 800 tahun lalu. "Kita bertemu lagi, sebentar lagi. Untuk pertama kalinya—benar-benar istirahat. Bersama."
(bersambung...)