Laras kecil—cucu Sekar—tumbuh dewasa dengan kapasitas terkuat di generasinya, dan tidak pernah, sehari pun, merasa sendirian.
Karena dia punya neneknya.
Sekar menghabiskan banyak waktu di tahun-tahun terakhirnya dengan Laras kecil—mengajarinya, bukan hanya mantra dan cara menjaga jendela kepala, tapi kebijaksanaan dari tiga hidup.
"Laras," kata Sekar suatu sore, keduanya di teras rumah Solo. "Nenek mau kamu janji sesuatu."
"Apa, Nenek?"
"Saat Nenek pergi—dan itu nggak lama lagi—kamu akan bisa dengar Nenek di jendela kepala. Nenek akan ada di sana, bersama leluhur lain."
Laras muda menahan air mata. "Nenek..."
"Dengar Nenek dulu. Kamu boleh panggil Nenek, kapan pun kamu butuh. Tapi janji satu hal: jangan tinggal di sana. Jangan habiskan hidupmu ngobrol sama yang sudah pergi. Hidup, Laras. Di masa kini. Cintai yang hidup. Jatuh cinta. Bikin karya. Punya keluarga. Jalani hidup yang utuh."
"Kayak Nenek?"
"Kayak Nenek. Tapi sebagai pilihanmu sendiri, jalanmu sendiri." Sekar menggenggam tangan cucunya. "Nenek tunggu 800 tahun untuk hidup yang utuh. Kamu—kamu sudah punya kesempatan itu, sejak lahir. Jangan sia-siakan. Jangan habiskan di masa lalu. Hidup, sayang. Penuh."
Laras muda memeluk neneknya. "Aku janji, Nenek. Aku akan hidup penuh."
"Bagus." Sekar mengelus rambut cucunya. "Dan suatu hari, jauh sekali, saat kamu sudah tua dan punya cucu sendiri, kamu akan ajari mereka hal yang sama. Rantai berlanjut—bukan rantai beban, tapi rantai kasih sayang. Itu warisan kita yang sebenarnya."
"Nenek tahu nggak," kata Laras muda pelan, "aku beruntung banget. Aku punya nenek yang ngerti aku sepenuhnya. Banyak anak berkapasitas nggak punya itu."
Sekar tersenyum, dan ada sesuatu yang dalam di matanya—pemahaman dari tiga hidup.
"Itu sebabnya Nenek kembali, sayang. Supaya kamu, dan anak-anak seperti kamu, nggak pernah kesepian seperti Nenek dulu. Hidup Nenek yang utuh—sebagian besar tujuannya adalah kamu. Supaya kamu nggak sendirian."
Laras muda menangis, memeluk neneknya, di teras rumah yang sudah menyimpan 800 tahun kasih sayang.
(bersambung...)