Senja selalu datang.
Setiap orang dalam cerita ini mengalaminya. Sekar Wijaya, senjanya datang terlalu cepat, di tol Cawang. Anjani, senjanya datang setelah hidup penuh di Majapahit. Sekar Atmaja, senjanya datang tenang, dikelilingi keluarga, setelah hidup yang utuh. Cahaya, Laras, dan semua—satu per satu, senja mereka datang.
Itu kebenaran yang tidak bisa dihindari. Semua hidup berakhir. Semua matahari turun.
Tapi ada kebenaran lain, yang sama benarnya, yang keluarga Atmaja pelajari selama 800 tahun:
Pagi juga, selalu, kembali.
Setelah Sekar Wijaya, datang Anjani. Setelah Anjani, lewat naskah dan keluarga, datang Sekar Atmaja. Setelah Sekar Atmaja, datang Cahaya, Laras, dan generasi tak terhitung. Setiap senja diikuti pagi. Setiap kehilangan diikuti kehidupan baru. Setiap kematian diikuti—lewat anak, cucu, cerita, kasih sayang—kelahiran.
Itu sebabnya keluarga Atmaja tidak takut senja. Karena mereka tahu, lebih dari kebanyakan orang, bahwa senja bukan akhir. Hanya bagian dari lingkaran yang lebih besar—lingkaran di mana pagi selalu, selalu, kembali.
Sekar memahami ini lebih dalam dari siapa pun. Dia mengalami tiga senja, dan tiga pagi. Mati di tol, lahir di Majapahit. Mati di Majapahit, lahir di Solo. Dan mati di Solo—untuk beristirahat, kali ini, tapi meninggalkan pagi-pagi baru: anak-anaknya, cucu-cucunya, anak-anak yang dia tolong, dan kasih sayang yang terus mengalir.
"Senja selalu datang," begitu setiap penyair keluarga menulis, dari Cahaya Majapahit sampai Cahaya Atmaja sampai sekarang. "Tapi pagi juga, selalu, kembali."
Itu bukan penghiburan kosong. Itu kebenaran yang dibuktikan, 800 tahun lebih, oleh satu keluarga yang menyaksikan senja demi senja, dan pagi demi pagi, tanpa henti.
Dan selama ada cinta yang diteruskan—dari hati ke hati, generasi ke generasi—pagi akan selalu kembali.
Selamanya.
(bersambung...)