Cerita ini dimulai dengan seorang perempuan yang mati sebelum sempat hidup.
Sekar Wijaya. Dua puluh tujuh tahun. Karyawati di Jakarta, pulang lembur, malam di tahun 2026. Sebuah truk berhenti mendadak di tol Cawang, dan dalam satu detik, hidupnya—yang baru saja dimulai—berakhir.
Itu seharusnya menjadi akhir. Sebuah tragedi kecil di antara jutaan tragedi. Seorang perempuan biasa, pergi terlalu cepat, dilupakan oleh dunia yang sibuk.
Tapi cerita ini bukan tentang akhir. Cerita ini tentang pulang.
Jiwa Sekar pulang—ke Majapahit, sebagai Anjani, putri buangan yang akhirnya menemukan rumah. Lalu pulang sekali lagi—ke Solo, sebagai Sekar Atmaja, yang akhirnya menjalani hidup yang utuh. Lalu pulang sepenuhnya—untuk beristirahat, dengan damai, setelah 800 tahun.
Dan lewat seluruh perjalanan itu, satu hal mengalir, tidak pernah berhenti, tidak pernah hilang: cinta.
Cinta Cahaya Majapahit yang menulis hidup ibunya supaya tidak hilang. Cinta keluarga Atmaja yang menjaga cerita 800 tahun. Cinta Damar dan Laras yang melindungi anak yang mengingat dua hidup. Cinta Arga yang menerima seluruh dunia istrinya. Cinta Sekar yang mengakhiri kesepian anak-anak. Cinta Maya yang melanjutkan ke orang asing. Cinta tak terhitung, dari hati ke hati, generasi ke generasi.
Itulah reinkarnasi yang sebenarnya. Bukan jiwa yang berpindah tubuh. Tapi cinta yang berpindah hati—dan tidak pernah, tidak pernah, mati.
Di suatu tempat di Solo, malam ini, seorang anak tidur di bawah bintang-bintang kecil, dijaga oleh nenek yang baik dan 800 tahun keluarga yang mencintainya. Dan dia tidak takut, karena dia tahu—lewat sesuatu yang lebih tua dari kata-kata—bahwa dia tidak sendirian.
Besok pagi, matahari akan kembali. Seperti selalu.
Dan kasih sayang yang dimulai dari seorang perempuan biasa yang mati di tol Cawang—kasih sayang yang pulang tiga kali, lalu menyebar ke ribuan hati—akan terus mengalir. Lintas generasi. Lintas abad. Selama ada satu hati yang memilih mencintai hati yang lain.
Senja selalu datang.
Tapi pagi juga, selalu, kembali.
Dan cinta—cinta tidak pernah pergi. Ia hanya pulang, lalu pulang lagi, lalu mengalir terus, tak berkesudahan, ke setiap hati yang membuka pintu untuknya.
Selamat pulang, Sekar. Akhirnya, benar-benar, pulang.
— TAMAT —