Pagi datang di Solo, seperti selalu.
Matahari naik di balik atap-atap kota tua, menyinari rumah Atmaja yang sudah berdiri berabad-abad, tempat 800 tahun lebih kasih sayang berlabuh.
Anak kecil yang semalam takut, bangun dengan tenang—tidur paling nyenyak yang pernah dia rasakan, di bawah bintang-bintang, dijaga oleh nenek yang baik.
Dia berlari ke teras, di mana ibunya sudah menyeduh teh.
"Bunda! Aku tidur nyenyak! Nenek Sekar jaga aku semalaman!"
Ibunya tersenyum, memeluk anaknya. "Bunda senang, sayang."
Mereka duduk di teras, menatap pagi Solo—matahari keemasan, langit cerah, hari baru yang dimulai.
Dan jika seseorang bisa mendengar—di ruangan sebelah, tempat Sekar beristirahat dengan damai—mungkin ada suara hangat yang tersenyum, menyaksikan pagi, menyaksikan anak yang dia jaga bangun tanpa takut, menyaksikan kasih sayang yang dia tanam terus tumbuh.
Sekar—jiwa yang mati di tol Cawang Jakarta, yang mengira hidupnya berakhir di sana—sekarang menyaksikan pagi-pagi tak terhitung. Lewat anak-anaknya. Lewat cucu-cucunya. Lewat setiap anak yang dia jaga. Lewat kasih sayang yang tidak pernah berhenti mengalir.
Hidup yang dia kira berakhir di tol Cawang, malam itu di tahun 2026—ternyata baru permulaan. Permulaan dari sesuatu yang membentang 800 tahun lebih, menyentuh ribuan hidup, dan masih—pagi ini, di teras rumah Solo—terus berlanjut.
Senja datang malam itu di tol Cawang. Senja yang mengakhiri hidup pertamanya, terlalu cepat.
Tapi pagi kembali. Lagi, dan lagi, dan lagi. Selama 800 tahun. Sampai pagi ini. Sampai pagi-pagi yang akan datang.
Karena pagi selalu, selalu, kembali.
(bersambung...)