Di rumah Atmaja Solo, di sebuah malam yang tenang, seorang anak kecil—generasi terbaru, yang membawa kapasitas—tidak bisa tidur.
Ibunya, penjaga kotak kayu di generasinya, duduk di tepi tempat tidur.
"Kenapa belum tidur, sayang?"
"Bunda. Aku dengar suara. Banyak. Aku takut."
Ibunya tersenyum—senyum tenang yang diwariskan 800 tahun, dari ibu ke anak, di keluarga ini.
"Sayang. Suara-suara itu leluhur kita. Mereka baik. Tapi kalau terlalu banyak, kamu yang pegang pintu. Ingat mantranya?"
"'Aku adalah aku. Pikiranku milikku.'"
"Bagus. Dan dengar—ada satu suara di antara mereka yang sangat baik. Namanya Nenek Sekar. Coba panggil dia."
Anak itu menutup mata, dan memanggil pelan dalam hati: "Nenek Sekar?"
Dan dari ruangan sebelah—tempat jiwa yang pulang tiga kali beristirahat, tapi tetap menjaga—suara hangat menjawab:
*"Halo, sayang. Jangan takut. Nenek di sini."*
Anak itu tersenyum, ketakutannya menguap.
"Bunda," katanya. "Nenek Sekar bilang jangan takut."
"Iya, sayang. Nenek Sekar selalu jaga anak-anak keluarga kita. Dan anak-anak di luar keluarga kita juga. Dia nenek yang sangat baik."
"Bunda. Nenek Sekar itu siapa?"
Ibunya menatap langit-langit, ke bintang-bintang kecil yang menyala—bintang yang Sekar pasang, yang dijaga setiap generasi.
"Nenek Sekar, sayang, adalah perempuan yang pulang tiga kali. Suatu hari Bunda akan ceritakan lengkap. Tapi yang penting sekarang: dia menjaga kamu. Dan dia bilang—kamu tidak sendirian. Tidak akan pernah."
Anak itu menatap bintang-bintang di langit-langit, mendengar suara hangat Nenek Sekar di kepalanya, merasa aman.
"Aku tidak sendirian," bisiknya, mengantuk.
*"Tidak pernah, sayang,"* bisik Sekar dari ruangan sebelah. *"Tidur. Besok pagi datang. Selalu, pagi datang."*
Anak itu tertidur, di bawah bintang-bintang, dijaga oleh nenek yang pulang tiga kali, dan oleh 800 tahun keluarga yang mencintainya.
Di luar jendela, malam Solo tenang. Dan di ufuk timur, jauh, pagi sudah bersiap untuk datang—seperti selalu.
(bersambung...)