"Xavi, berhenti." Ucap Gio untuk yang kedua kalinya.
Menghampiri gadis yang membuat pikirannya awut-awutan, dirinya lantas menarik Xavi menuju rooftop.
"Apaan sih!" Sentak Xaviora kesal.
"Kita perlu bicara." Tegasku, dengan masih menyeret Xaviora menuju tangga.
"Bicara apa lagi?" Tanya gadis itu.
"Bicara tentang kita." Jawabku.
Saat di perjalanan semua siswa yang di lewati oleh Gio dan Xaviora tampak berbisik-bisik satu sama lain, ada yang bilang Xaviora caper lah, ada yang bilang mereka balikan lah, ada juga yang bilang kalau mereka berdua memang cocok bersama.
Bisikan-bisikan tersebut juga terdengar sampai ke telinga seorang siswi berambut hitam panjang, dengan wajah manis dan lugu. Tidak seperti wajahnya yang menunjukan senyuman, kedua tangannya tampak terkepal erat di balik rok pendeknya.
Setelahnya sampai di atap, kini Gio melonggarkan tautan tangan yang masih ia pertahankan, walau sang empu sudah memberontak.
Masih dengan menggenggam tangan Xaviora, kami berdua berhadap-hadapan di rooftop sekolah.
Ia perlu bicara, perlu penjelasan, dirinya sudah tidak tahan dengan tingkah Xaviora yang menganggapnya seolah tiada.
"Please dengerin aku." Ucapku lirih, memandang gadis yang berdiri di hapadanku dengan pandangan sendu.
"Dengerin apa sih?" Jawab Xaviora tanpa melihat kearahku.
Xaviora tidak seperti dulu, dulu saat dekat dengannya saja raut bahagia langsung terpancar di wajahnya, sekarang entah mimpi atau bukan, Xaviora bahkan tidak mau menatapku.
"Kamu beneran minta putus? Xav, you know i love you right?"
"No."
"Xav-"
"Kemaren gue jadi orang yang ngga lo sukai kan? Dan sekarang gue pastiin gue akan berubah jadi orang yang ngga akan pernah bisa lo miliki." Ucap Xaviora.
"I beg you don't talk like that!"
"Why?"
"Kita kembali oke? Aku janji ngga akan usir kamu lagi kalo kamu nempelin aku terus. Tapi aku cuma minta sama kamu, please jangan ganggu Anna, jangan sakiti Anna lagi, kamu ngerti kan?" Tangan Gio terangkat mengelus pipi mulus Xaviora, berharap gadis itu menuruti ucapannya.
"Lo bercanda?" Gadis itu menyentak kasar tangan Gio yang menempel di pipinya.
"Xav, kamu itu udah keterlaluan ke Anna. Itu alasan aku benci sama kamu dari dulu, kamu jadi kasar, sering buat masalah, malu-maluin aku!"
"Jadi please ayo balik sama aku? Kita mulai dari nol, kamu ngga usah ada masalah-masalah sama Anna oke? Kalo kamu nurutin aku, aku ngga akan benci ke kamu kaya sebelum-sebelumnya, kamu juga bisa baikan sama kakak kembarmu." Sambung Gio, berusaha melangkah lebih dekat ke arah Xaviora.
"Xav?" Ucap Gio menatap bibir ranum Xaviora di depannya.
Gio mendekatkan wajahnya, sampai hidung keduanya bersentuhan. Tangan Gio mencoba meraih tengkuk Xaviora, menutup mata Gio lantas-
Bug
Xaviora yang sedari hanya menunggu apa yang akan dilakukan mantan kekasihnya pun tampak menyunggingkan senyum tipis, melihat mantannya jatuh karena tendangan seseorang di sampingnya.
Beraninya makhluk yang sudah kotor seperti Gio menyentuh dirinya, awalnya ia akan menampar lelaki b******k itu, tapi saat melihat Adipati yang tiba-tiba memasuki rooftop akhirnya dirinya hanya diam.
Dia tau Adipati pasti akan berbuat sesuatu melihat kejadian tadi, dan ya sesuai dugaan, Adipati menendang Gio sampai menabrak tumpukan kursi kayu di pojokan.
"Lo apa-apaan hah!" Ucap Gio yang tengah berusaha berdiri, dengan satu tangan memegang sisi kiri perutnya yang terkena tendangan.
Alih-alih menjawab, Adipati malah menghadap ke arah Xaviora yang masih berdiri di tempat awal.
"Ayo kita turun." Ucap Adipati.
"Bentar." Xaviora berjalan mendekat ke arah Gio yang sudah berdiri.
Gio yang dihampiri Xaviora pun merasa senang, ia berfikir pasti Xaviora akan membantunya dan menuntunnya ke UKS, setelah itu ia akan memarahi lelaki bertindik hitam di depannya ini.
Plak
Suara tamparan menggema di ruangan yang hanya berisikan tiga orang itu, Gio memegang pipinya yang di tampar, ia menatap gadis di depannya yang menyunggingkan senyum manis yang selalu ia lihat dulu.
Senyuman manis yang menyakitkan.