Benci ini hadir dengan cinta yang melangkah mengikuti.
Sejak kejadian Xaviora mengetuk pintu kamarnya, Alaric tampak lebih diam.
Tidak seperti dulu yang bermulut pedas, Altair pun sampai bingung dengan sikap aneh kembarannya.
Sekarang Alaric tengah merenung di kamarnya, hari ini dia tidak bisa berangkat sekolah, entah kenapa setiap bertemu dengan adiknya, ia merasakan hal-hal yang diluar nalar.
Alaric benci dengan adiknya, apalagi saat dirinya melihat sang adik menyakiti Anna.
Tapi sekarang saat melihat adiknya, jantungnya malah terasa bergedup kencang, ia marah, gelisah dengan apa yang ia rasakan.
Ia takut.
Takut kalau dirinya hanya beralasan membenci adiknya demi menutupi rasa sukanya, rasa cemburunya karena adiknya sampai menyakiti orang lain demi berdekatan dengan sahabatnya, rasa tidak sukanya melihat adiknya dekat dengan lelaki selain dirinya, rasa gelisah saat adiknya lebih memilih sahabatnya.
"Arghhh." Mengacak-acak rambut hitamnya, Alaric tampak kacau.
Cinta? Atau hanya rasa sayang sesama saudara?
Ia menampik kalau dirinya jatuh cinta kepada adiknya sendiri, entah apa yang ia pikirkan sampai seminggu yang lalu ia mengunjungi kamar adiknya.
Tidak terpikirkan kalau adiknya akan menyusulnya setelah ia berlari menjauh, melihat penampilan Xaviora malam itu, ia merasa gugup, gugup seperti seorang pemuda yang melihat pasangannya terlihat cantik.
Penampilan Xaviora yang sekarang jauh lebih cantik dari saat-saat ia mengejar-ngejar Gio, membuatnya lebih merasakan perasaan terlarang yang selalu ia tampik.
Sendiri di kamar seperti ini malah membuat Alaric tambah memikirkan adik cantiknya, akhirnya ia berencana untuk mengunjungi salah satu kafe yang dekat dengan rumahnya.
***
Di kantin, Adipati dan Xaviora tampak duduk berhadapan dengan minuman di depan tempat duduk masing-masing.
Setelah tadi Xaviora menampar Gio, Adipati senang melihatnya, ia kira Xaviora akan membantu Gio dan mengabaikannya.
Ternyata Xaviora menampar dan setelahnya berjalan mendekat ke arah dirinya, menarik tangan dan mengajakku ke kantin bersama.
Meninggalkan Gio yang masih syok disana.
"m***m jangan di atap dong neng." Ucap Adipati, berusaha memulai topik karena sedari tadi hanya hawa canggung yang meliputi keduanya.
"Lambemu." Ucap gadis pirang itu, dengan satu tangan menyangga wajahnya yang terlihat imut, dan satu tangan tengah mengaduk-aduk minuman didepannya.
Adipati tertawa, menampilkan lesung pipit di pipinya.
Xaviora yang tengah mengaduk-aduk minumannya sampai terhenti.
Sebelum Adipati akan melontarkan godaan lagi, seseorang tiba-tiba datang dan dengan santainya duduk di samping Xaviora.
"Xavi." Ucap Artha.
"Kamu ngga masuk kelas, pasti gara-gara dia kan?" Sambungnya sambil menunjukan Adipati yang sedang menyedot minuman didepannya.
"Kamu?" Tanya Xaviora dengan satu alis terangkat.
Sejak kapan panggilan Artha dan dia menjadi aku-kamu?
"Alay banget lo, aku-kamu, aku-kamu." Cibir Adipati.
"Diem lo." Teriak Artha di depan muka Adipati.
Sejak Xaviora diantar pulang oleh Adipati, memang keduanya menjadi sering bertengkar, berdebat hal-hal tidak penting.
Artha tampak menggeser tubuhnya mepet ke arah Xaviora, dengan senyum manis yang masih sama seperti pertama kali mereka bertemu.
Tapi senyum itu perlahan luntur saat mendengar penuturan Xaviora yang tiba-tiba.
"Jauh-jauh."
"Gue ngga mau di labrak Cassandra." Sambung gadis itu dengan tangan melambai-lambai pertanda mengusir.
Artha memegang dadanya dramatis, menampilkan mimik muka seolah ia yang paling menderita di dunia.
"Cassandra cuma temen Xav." Ucap Artha meyakinkan.
"Temen masa sampe ninggalin Xavi sendiri di warung, mana baru pernah kesitu sekali, temen apa demen tuh." Julid Adipati dengan bibir yang di buat-buat.
Xaviora hanya mendengus melihat keduanya yang sepertinya akan kembali bertengkar, meminum minumannya dengan santai menulikan telinga karena dua hama di depannya ini terus mengoceh seperti burung.
"Kalian bertiga cepat kelapangan!" Ucap seorang pria paruh baya, dengan kepala yang tidak ada satu helai pun rambut, dan perut buncitnya terlihat sampai-sampai kancing kemejanya seperti mau lepas dari tempatnya.
Guru BK.
Berkacak pinggang dengan muka garang yang dibuat-buat, bukanya takut malah jadi pengen ketawa.
Buktinya Adipati dan Artha saat ini tengah menertawakan nasib kancing kemeja yang terlihat sudah hilang entah sejak kapan.
Tertawaan mereka berdua membuat Xaviora ikut-ikutan dihukum berkeliling lapangan.
Ah, sungguh Xaviora merasa sangat kesal kepada dua lalat di depannya ini.