Bram tidak tidur di kamar mereka malam itu. Dia tidur di sofa.
Lara mengunci kamar. Bukan karena takut Bram menyerang—dia tahu Bram tidak akan—tapi karena dia butuh sendirian. Butuh ruang yang dia kontrol penuh, walaupun cuma tujuh meter persegi kamar tidur.
Dia menelepon Indri dari HP cadangan, di bawah selimut, supaya Bram tidak dengar.
"Indri."
"Lar?"
"Saya konfrontasi. Bram... Bram operatif intelijen. Saya target awalnya. Lalu cinta jadi nyata."
Indri diam tiga detik. Lara bisa mendengar napas Indri di seberang.
"Lar. Saya... wah."
"Indri. Apakah saya... apakah saya dalam bahaya?"
"Lar. Saya tidak yakin. Tapi suami lo sekarang harus melapor handler-nya. Dan handler... tidak senang istri tahu. Itu protokol mereka—kalau ada kebocoran, mereka mengamankan dengan cara mereka."
"Indri. Saya... saya takut."
"Lar. Lo punya tempat lain untuk pergi? Yang Bram gak tahu? Yang Anda dan Bram tidak pernah bahas?"
"Saya bisa ke ibu saya."
"Lar. Bram tahu di mana ibu lo. Bram pernah ke sana puluhan kali. Itu bukan tempat aman. Mereka akan cari di sana pertama."
"Indri."
"Lar. Lo bisa ke kost saya. Sekarang. Bawa Rasya. Pakai mobil saya—saya datang naik motor nanti. Kost saya juga tidak terlalu aman, tapi minimal mereka tidak tahu."
"Indri. Bram akan tahu kalau kita pergi. Dia agen, dia pasti mendeteksi."
"Lar. Tinggalkan HP lo dan HP Rasya di rumah. Saya pinjamin lo HP cadangan. Pakai mobil saya—saya parkirin di belakang rumah lo lima menit lagi. Lo dan Rasya keluar lewat pintu belakang. Saya jemput lo nanti dengan motor di kost."
"Indri. Ini cepet banget."
"Lar. Lo butuh keluar sekarang. Setiap menit lo di rumah, lebih bahaya. Bahkan kalau Bram cinta lo—dan saya percaya dia cinta—handler-nya tidak. Dan mereka yang akan bertindak."
Lara menarik napas.
"OK."
***
Lara kemasi tas dengan kecepatan yang dia tidak tahu dia punya. Pakaian Rasya untuk tiga hari. Beberapa milik dia. Dokumen penting—akte Rasya, ijazah dia, paspor mereka berdua, KTP. Uang tunai yang dia simpan di laci buat darurat, dua puluh juta. Charger HP cadangan.
Dimasukkan ke ransel tunggal.
Membangunkan Rasya pelan. Pukul satu pagi.
"Sayang. Sayang."
"Bunda?"
"Sayang. Kita... kita main. Dengan Tante Indri. Bunda akan jelaskan nanti. Sekarang Sayang harus diam ya. Jangan ribut. Kita harus sangat tenang."
Rasya mengantuk. Tidak protes. Tidak bertanya. Anak yang biasa tidur dengan cara dewasa-nya—mungkin karena ayahnya sering keluar mendadak, dia tidak terganggu dengan rutin yang berubah.
Lara menggendong Rasya. Dengan tas. Diam-diam keluar dari kamar.
Lewat koridor. Lewat ruang tamu. Bram tertidur di sofa—wajahnya menghadap sandaran, satu tangan di dahi. Tidak bangun.
(Atau mungkin... mungkin dia berpura-pura tidur. Lara tidak yakin. Dia tidak punya waktu untuk yakin.)
Lara keluar lewat pintu belakang—pintu dapur yang menuju halaman belakang. Mobil Indri sudah di parkir di gang. Lampu mati. Mesin mati. Indri sudah keluar dengan motor sebelumnya.
Lara masuk dengan Rasya. Mengemudi. Tanpa lampu untuk dua puluh meter pertama, sampai keluar gang.
Tidak ke ibu Lara. Tidak ke kost Indri.
Lara mengemudi keluar Jakarta. Ke arah Sukabumi. Ada villa kecil di dataran tinggi yang dia dan Bram pernah sewa untuk weekend tahun lalu—tempat yang Lara sudah daftarkan ulang di Airbnb pakai akun cadangan dia (bukan akun yang Bram tahu) hari kedua di kost Cawang.
Lara sampai villa pukul tiga pagi. Rasya tidur di lengannya saat dia parkir mobil di garasi villa. Pemilik villa—bapak lokal yang Lara kontak via WhatsApp—sudah meninggalkan kunci di bawah pot bunga. Tidak ketemu langsung.
Lara menempatkan Rasya di tempat tidur. Menutup pintu kamar pelan.
Lalu duduk di teras villa. Menatap pegunungan yang dia tidak bisa lihat di kegelapan—cuma siluet hitam yang lebih hitam dari langit, dan sedikit cahaya bintang yang Jakarta tidak punya.
Dia menelepon Indri dari HP cadangan.
"Indri. Saya di Sukabumi."
"Lar. Bagus. Stay di sana. Saya akan handle dari sini."
"Indri. Apa yang saya lakukan dari sini?"
"Lar. Sekarang lo tunggu. Saya akan lihat reaksi Bram pagi ini. Kalau dia melapor handler dan handler kirim orang... saya akan tahu lewat tracker yang saya pasang di mobil Bram."
"Indri. Saya... saya bawa Rasya ke mana setelah ini?"
"Lar. Tergantung reaksi Bram. Kalau aman, lo balik ke Jakarta. Kalau tidak... kita pikirkan. Saya punya kontak di Yogya yang bisa membantu kalau perlu."
Lara menutup telepon. Menatap pegunungan yang gelap.
Tujuh tahun pernikahan. Berakhir dalam empat hari.
Atau... apakah berakhir?
Lara tidak tahu apa yang dia rasakan. Marah. Sedih. Bingung. Takut. Semua sekaligus, dalam dosis yang dia tidak bisa pisahkan satu per satu.
Tapi yang paling kuat—dan ini yang paling membuat dia bingung—cinta.
Karena dia masih cinta Bram.
Bram yang memeluk Rasya tujuh tahun. Bram yang masak nasi goreng untuk dia tiap weekend. Bram yang membaca buku malam-malam di kamar dengan kacamata bacanya yang lupa dilepas saat dia tidur. Bram yang—di restoran Italia Senopati seminggu lalu—mengangkat gelas dan bilang "tujuh tahun, saya tidak pernah membayangkan saya akan bahagia begini."
Bram yang juga... berbohong tujuh tahun.
Lara tidak tahu mana Bram yang real.
Mungkin... dua-duanya.
Mungkin Bram yang bohong dan Bram yang cinta adalah orang yang sama, dengan dua identitas. Seperti dia punya dua HP. Dua nama. Dua kehidupan. Dan keduanya benar.
Lara menutup matanya di teras. Pegunungan gelap di hadapannya.
Pukul empat pagi, Lara akhirnya tidur. Di kursi teras, dengan jaket yang dia pakai sebagai selimut. Dingin Sukabumi di atas seribu meter. Tapi dia tidak pindah ke kamar—dia mau dekat pintu, kalau-kalau Rasya bangun atau ada suara yang aneh.
Dia tidur dengan HP cadangan di tangan.
Dan dengan rumah Bintaro—rumah yang tujuh tahun dia panggil rumah—di belakang pikirannya, mungkin tidak akan pernah dia panggil rumah lagi.
***
[Bab 11+ adalah Premium]