Lara akhirnya memilih konfrontasi.
Hari ketiga di kost, dia putuskan: dia tidak bisa hidup dengan kebohongan ini selamanya. Dia perlu tahu—dari Bram langsung—siapa Bram sebenarnya. Bukan dari Indri. Bukan dari ibu. Dari Bram.
Lara pulang ke Bintaro pagi itu. Indri ikut dengan dia—menunggu di mobil di depan rumah Bintaro untuk keamanan, dengan mesin menyala, siap kabur kalau ada signal.
Lara masuk ke rumah. Membersihkan. Membuka jendela supaya rumah tidak terasa pengap. Berpura-pura baru pulang dari Bali—dia bahkan beli souvenir kecil dari toko yang jual barang Bali di Cawang, supaya kalau Bram tanya, dia bisa tunjukkan.
Ibu Lara sudah datang dengan Rasya pukul satu siang. Lara minta ibu pulang sebelum Bram pulang dari kantor—dengan alasan dia mau "waktu sendirian dengan suaminya."
Pukul delapan malam, Bram pulang. Bawa kantong supermarket—buah-buahan, mangga yang Lara suka.
"Sayang. Pulang, ya."
"Mas. Iya."
"Bali bagus?"
"Iya. Bagus."
Bram mencium Lara. Lara membalas, tapi dingin. Bram—Lara perhatikan—tidak menyadari atau memilih tidak komentar.
Rasya—yang sudah tidur di kamarnya—tidak bangun.
Mereka makan malam berdua. Lara tidak banyak makan. Bram tampaknya sadar suasana berbeda, tapi tidak bertanya. Dia pria yang tahu kapan tidak boleh menanyakan.
Setelah makan, Lara mencuci piring sendirian. Bram menonton TV di ruang tamu. Saat selesai cuci piring, Lara duduk di sofa di seberang Bram.
Mematikan TV.
"Mas Bram. Duduk yang tegak."
Bram duduk. Wajahnya berubah—sedikit tegang, mata yang tajam.
"Sayang. Anda... terlihat tegang."
"Mas. Saya tahu."
"Tahu apa?"
Lara menarik napas. Menyiapkan diri. Tujuh hari investigasi, satu kalimat untuk membuka semuanya.
"Tentang apartment Kemang. Tentang Karina Lestari. Tentang Bram Wicaksono—identitas kedua Anda. Tentang fakta Anda berbohong tentang pekerjaan Anda. Tentang fakta saya pikir Anda agen intelijen atau aset."
Bram membatu. Wajahnya berhenti—Lara lihat ekspresi seseorang yang sedang menerima hit fisik berat tanpa bergerak.
Lima detik. Sepuluh.
Bram menatap Lara dengan mata yang... berubah. Bukan mata suami yang dia kenal tujuh tahun. Mata yang lebih keras. Lebih waspada. Mata seseorang yang sedang berhitung skenario—berapa banyak Lara tahu, dari mana, siapa lain yang tahu.
"Lara."
"Iya, Mas."
"Anda... mengikuti saya?"
"Iya."
"Anda bayar siapa untuk ini?"
"Saya tidak akan jawab itu sekarang."
Bram diam lama. Lalu ekspresinya berubah lagi—dari mata "operasi" ke mata "suami." Lara tidak tahu yang mana lebih jujur, tapi mata kedua membuatnya hampir menangis.
"Lara. Apa yang Anda mau?"
"Mas. Saya mau tahu siapa Anda. Sebenarnya."
Bram menutup matanya. Menarik napas berat. Berlangsung sepuluh detik. Dua puluh. Lara tidak interupsi.
Akhirnya Bram membuka mata. Wajahnya berubah—lelah. Sangat lelah. Seperti seseorang yang sudah lama menahan beban dan akhirnya boleh meletakkan, walaupun setelah letak beban itu dia tidak tahu apakah dia bisa berdiri lagi.
"Lara. Saya... saya tidak bisa cerita semuanya. Tapi saya akan cerita apa yang saya bisa."
"Mas."
"Lara. Saya... saya bekerja untuk pemerintah. Bukan kantor swasta. Pratama Logistic adalah cover. Saya... saya operatif intelijen."
Lara menelan ludah. Walaupun dia sudah duga, mendengarnya dari mulut Bram membuat semua jadi nyata. Lebih nyata dari laporan Indri. Lebih nyata dari foto-foto CCTV.
"Mas. Sejak kapan?"
"Sejak saya lulus kuliah, Lara. Saya direkrut di tahun terakhir UI—orientasi kerja yang teman saya bilang 'magang BIN' itu sebenarnya rekrutmen. Sejak itu, saya... saya hidup dua identitas."
"Termasuk... saat Anda bertemu saya?"
Bram menatap Lara. Mata yang sekarang basah air mata kecil.
"Lara. Saya bertemu Anda di pernikahan teman, iya. Tapi saya... saya juga tahu siapa Anda sebelumnya. Saya... saya direkrut untuk mendekati Anda."
Lara membatu. Sofa di belakangnya yang biasanya nyaman, tiba-tiba terlalu keras.
"Apa."
"Lara. Ayah Anda—yang meninggal saat Anda umur lima belas, kecelakaan—dulu adalah saksi penting di kasus korupsi besar. Pejabat Kementerian Keuangan yang membongkar skema penggelapan pajak. Saya direkrut untuk mengikuti keluarga Anda, memantau apakah ada upaya kontak dari pihak yang dia bersaksi melawan."
Lara memegang pinggir sofa. Tangannya gemetar.
"Mas. Anda... menikahi saya untuk pekerjaan Anda?"
"Lara. Awalnya iya. Tapi saya... saya jatuh cinta beneran. Setelah satu tahun mengamati Anda—dari jarak, sebelum kita kenal—dan setahun mengenal Anda secara langsung di pernikahan teman, saya tidak bisa berpura-pura. Saya melapor ke handler saya—saya bilang saya jatuh cinta. Mereka kasih saya pilihan: tinggalkan misi (yang artinya saya tidak akan pernah kontak Anda lagi), atau lanjutkan dengan menikahi Anda. Saya pilih menikahi Anda."
"Karena cinta?"
"Iya, Lara."
"Atau karena pekerjaan?"
"Lara. Tujuh tahun. Saya tidak akan bohong sekarang. Awalnya pekerjaan—itu motif rekrutmen saya. Tapi tahun kedua, ketiga... cinta jadi sungguh. Saya bukan aktor cukup baik untuk berpura-pura tujuh tahun. Saya lapor handler saya tahun ketiga bahwa saya benar cinta Anda. Mereka kasih saya pilihan lagi: keluar dari pekerjaan, atau lanjutkan dengan menyembunyikan kenyataan. Saya pilih lanjutkan, dengan janji saya akan menyembunyikan banyak detail tentang Anda dari mereka."
Lara menutup wajahnya dengan tangan.
"Mas. Rasya?"
"Lara. Rasya anak saya. Saya cinta dia. Sumpah."
"Rasya juga bagian dari pekerjaan?"
"Tidak. Rasya... Rasya saya inginkan, untuk kita. Saya tidak pernah berpura-pura cinta dia. Sumpah, Lara. Sumpah, sumpah."
Lara menangis. Lama. Bram tidak menyentuhnya—dia tahu lebih baik. Cuma duduk di kursi seberang dengan tangan di pangkuannya, juga menangis pelan, menunggu.
Akhirnya, Lara mengangkat wajah. Air mata di pipi tapi suara stabil.
"Mas. Sekarang... apa yang akan terjadi?"
Bram menatap Lara dengan mata yang... khawatir.
"Lara. Saya... saya tidak tahu. Saya... saya harus melapor handler saya. Bahwa istri saya tahu."
"Mas. Apakah... apakah kita dalam bahaya?"
Bram tidak menjawab.
Tapi jawabannya ada di matanya.
Iya.