Lara pulang ke Bintaro malam itu dengan wajah yang harus dia paksakan jadi normal.
Dia jemput Rasya dari Bu Endang. Rasya cerita tentang teman tetangga yang punya kelinci. Lara mendengarkan dengan tersenyum yang tidak sampai ke matanya, tapi Rasya yang lima tahun tidak mendeteksi.
Sampai rumah, Lara masak makan malam—mie ayam yang dia buat dari awal. Rasya senang. Bram pulang seperti biasa pukul delapan malam.
"Sayang."
"Mas."
"Capek?"
"Iya, sedikit."
Lara menyiapkan makan malam. Mereka makan bertiga dengan Rasya. Rasya cerita tentang sekolahnya, tentang kelinci tetangga Bu Endang, tentang kucing yang dia mau pelihara suatu hari.
Bram tertawa di setiap cerita Rasya. Tawa yang Lara kenal—tawa ayah yang mendengarkan anaknya dengan ketertarikan tulus.
Lara menatap suaminya tertawa dengan anaknya. Bertanya pada dirinya sendiri: apakah Bram berpura-pura mencintai Rasya juga? Atau Rasya... bagian asli dari Bram?
Setelah Rasya tidur, Lara dan Bram di kamar. Bram membaca buku—kebiasaannya sebelum tidur. Buku biografi politisi yang Bram ambil di rak buku ruang tamu seminggu lalu.
Lara berbaring, menatap langit-langit. Memutuskan.
"Mas Bram."
"Iya, Sayang."
"Saya... saya pikir saya butuh berlibur. Sendirian. Beberapa hari."
Bram menutup bukunya. Menatap Lara dengan ekspresi khawatir suami yang tulus.
"Sayang? Anda stress?"
"Iya. Saya... ibu saya bilang saya stress dengan toko online dan Rasya. Beliau menawarkan menjaga Rasya tiga hari. Saya pikir saya pergi ke Bali. Sendirian. Refresh."
"Lara. Itu bagus. Anda perlu istirahat."
Lara menatap Bram. Pria yang mendukung dia. Yang setiap kali dia stress, dia dorong untuk istirahat. Yang lebih dari sekali membayar Lara ke spa atau weekend retreat saat Lara kelihatan kelelahan.
Apakah ini juga akting? Atau ini Bram yang real?
"Mas. Saya berangkat besok pagi."
"OK, Sayang. Anda butuh saya antar bandara?"
"Tidak, Mas. Saya naik Grab. Saya sudah pesan tiket pagi."
"OK. Hati-hati di sana, Lara. Kabarin."
Bram mencium kening Lara. Kembali baca buku.
Lara tutup mata. Air mata kecil di sudut matanya, tertutup tangan.
***
Pagi berikutnya, Lara sebenarnya tidak ke Bali.
Lara naik Grab ke Cawang—ke kantor Indri. Tas kecil di tangan dengan baju ganti seadanya. Tidak bawa HP-nya—dia tinggalkan HP di nakas Bintaro, supaya kalau Bram cek lokasi (yang Lara pikir mungkin), HP-nya kelihatan tetap di rumah.
Indri membuka pintu kantornya pukul tujuh pagi—lebih awal dari biasanya. Lara pesan via WhatsApp tadi malam dari laptop, bukan HP, jadi tidak ada jejak di HP.
"Lar."
"Indri."
"Lo... lo gak ke Bali."
"Indri. Saya butuh lebih banyak info. Dan saya... saya butuh tempat menginap yang aman selama tiga hari. Tempat yang Bram tidak tahu."
Indri menelepon temannya—pemilik kost di belakang kantor Indri. Mengatur Lara menginap di kamar kost kosong yang ada. Temporary. Kost murah, tidak nyaman, tapi anonim.
Lara menetap di kost. Pakai HP cadangan yang Indri berikan—HP murah yang Indri biasa pakai untuk klien yang butuh komunikasi tidak terlacak. Hanya untuk komunikasi dengan Indri dan sesekali dengan ibu Lara.
Hari pertama di kost, Lara duduk di tempat tidur kecil. Menatap dinding. Tidak bisa baca, tidak bisa nonton. Cuma menunggu update Indri.
***
Hari kedua di kost, Indri datang. Pukul dua siang. Membawa amplop coklat.
"Lar. Saya temuin lebih."
Indri buka laptopnya di meja kecil kost. Menunjukkan foto.
"Bram dan Karina di apartment Kemang kemarin malam. Tapi mereka tidak pacaran. Saya pasang mic di koridor—saya tahu, saya tahu, ilegal—tapi saya dengar."
"Apa yang Anda dengar?"
"Mereka bicara tentang... kontrak. Pengiriman. Sasaran. Bukan asmara. Sama sekali. Mereka... profesional. Bahkan agak dingin satu sama lain."
"Pengiriman apa?"
Indri buka file audio. Memutar pelan.
Suara Bram. Suara yang Lara kenal tujuh tahun. Tapi nada-nya berbeda—lebih datar, lebih instruksi-instruksi.
*"K bilang sasaran sudah bergerak ke Surabaya. Kita tunggu konfirmasi M sebelum next step."*
Suara perempuan—Karina, Lara tebak.
*"Confirm. Tapi saya tidak suka window-nya. Terlalu sempit."*
*"Saya juga. Tapi kita tidak punya pilihan."*
Indri menutup audio.
"Lar. Saya pikir... saya pikir Bram bagian dari operasi yang lebih dari intelijen biasa. Mungkin... pengiriman senjata. Atau orang. Atau dokumen sensitif. Mungkin operasi resmi pemerintah yang ilegal di mata publik—penyelundupan, monitoring lawan negara, atau lebih dalam."
Lara menutup matanya.
"Indri. Bram... kriminal?"
"Lar. Saya tidak tahu. Mungkin ya. Mungkin tidak—mungkin operasi resmi pemerintah tapi ilegal di mata publik. Banyak unit intelijen begitu. Mereka bekerja untuk kepentingan negara, tapi kalau ditemukan, mereka tidak akan dilindungi—pemerintah akan disclaim."
"Indri. Apa yang harus saya lakukan?"
Indri menatap Lara dengan serius.
"Lar. Saya tidak bisa jawab. Saya cuma kasih informasi. Lo yang putuskan. Tapi saya kasih lo opsi yang saya pikirkan."
"Apa?"
"Opsi satu: lo lapor ke polisi. Tapi kalau Bram operasi resmi pemerintah, dia akan dilindungi. Lo akan dianggap berkhianat atau bahaya keamanan negara. Lo dan Rasya jadi target pengamanan—dipindahkan, atau lebih buruk."
"Indri."
"Opsi dua: lo cerai dan pergi. Bawa Rasya. Pindah dari Jakarta. Mulai hidup baru. Tapi Rasya... Rasya lima tahun, dia cinta ayahnya. Dan Bram akan punya cara nemuin lo, kalau dia mau."
"Indri."
"Opsi tiga: lo konfrontasi Bram langsung. Tapi ibu lo bilang itu berbahaya, dan saya setuju."
"Lalu?"
"Opsi empat. Yang saya pikir... yang paling sulit tapi mungkin paling jujur."
"Apa?"
"Lo konfrontasi Bram tapi setelah lo amankan diri lo dan Rasya. Lo siap-siap kabur kalau perlu. Lo cerita ke ibu lo. Lo... lo kasih Bram pilihan—pilih lo dan Rasya, atau pilih pekerjaan."
Lara menutup matanya.
"Indri. Saya... saya tidak tahu apakah saya bisa."
"Lar. Saya juga tidak tahu apakah saya bisa kalau saya di posisi lo."
Lara duduk di tempat tidur kost. Memikirkan.
Tujuh tahun sempurna. Sekarang... berantakan.
Tapi Lara tahu satu hal: dia tidak bisa tinggal di kost selamanya. Dia tidak bisa menghindar selamanya.
Cepat atau lambat, dia harus kembali. Dan dia harus bertanya pada Bram—pertanyaan yang dia sudah simpan tujuh hari sejak SMS itu.