Tiga hari di villa. Indri update setiap pagi via HP cadangan.
Hari pertama: Bram pulang ke Bintaro setelah kunjungan ke kost Indri dan rumah ibu Lara. Tidak ke kantor. Tidak bertemu Karina. Tidak ke handler. Cuma di rumah—Indri konfirmasi via tracker mobil. Mobil parkir di garasi Bintaro dari pukul sembilan pagi, tidak bergerak.
Hari kedua: Bram tetap di rumah. Tracker tidak bergerak. Indri lewat sekali di depan rumah Bintaro pagi-pagi, dengan motor, casual. Lihat Bram di teras—duduk dengan kopi yang dia tidak minum, baju yang sama dari hari kemarin. Memesan makanan online dua kali (Indri bisa lihat dari delivery yang lewat). Tidak keluar.
Hari ketiga pagi: Bram tetap di rumah.
Tapi siang hari ketiga, sesuatu berubah.
Indri telepon Lara pukul satu siang.
"Lar. Bram bergerak hari ini."
"Ke mana?"
"Apartment Kemang. Sebentar saja, dua jam lalu. Sekarang dia di sana."
Lara duduk di teras villa. Cangkir teh hangat di tangannya. Rasya main di kamar dengan buku gambar yang Lara beli dari minimarket kemarin.
"Indri. Apa artinya?"
"Lar. Saya tidak yakin. Tapi saya cek kamera CCTV di koridor apartment—saya... saya bayar satpam tua tujuh ratus ribu lagi—Bram bertemu Karina di apartment. Cuma berdua. Tidak ada kontak lain."
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Saya tidak punya audio dari hari ini. Saya tidak punya akses lagi setelah saya keluar dari kost lama. Tapi mereka kelihatan tegang di kamera koridor. Bram... dia tampaknya... mengakhiri sesuatu."
"Mengakhiri?"
"Lar. Saya tebak—Bram mungkin... mengakhiri kerja dengan mereka. Atau setidaknya, mengambil cuti panjang. Saya tidak tahu pasti."
Lara menutup matanya. Air mata kecil di sudut.
"Indri."
"Iya."
"Bram... benar-benar memilih saya?"
"Lar. Saya pikir iya. Tapi saya tidak yakin. Hati-hati."
***
Hari keempat villa, Lara terima telepon yang tidak diduga.
Pukul tiga sore. Dari nomor yang Lara tidak kenal. Bukan Indri. Bukan ibu.
Lara ragu mengangkat. Tapi mengangkat—dia sudah cukup hidup dengan ketidakpastian.
"Halo?"
"Lara."
Suara Bram.
Lara hampir menjatuhkan HP. Tubuhnya membeku. Rasya di dalam kamar, untungnya tidak dengar.
"Mas."
"Lara. Saya... saya tidak tahu di mana Anda. Indri tidak mau bilang. Saya tidak akan paksa."
"Mas Bram. Kenapa Anda tahu nomor ini?"
"Saya... saya teknisi. Saya bisa cari nomor cadangan Indri lewat database. Tapi Lara, saya tidak akan datang. Saya cuma... saya cuma butuh dengar suara Anda."
Lara menarik napas. Pelan.
"Mas. Apa yang Anda mau?"
"Lara. Saya... saya selesai. Saya melapor ke handler saya kemarin. Saya bilang saya keluar. Saya tidak akan jadi operatif lagi."
"Mas."
"Saya kasih mereka satu bulan untuk transisi—debrief, transfer kasus aktif ke Karina dan rekan lain, prosedur exit standar. Setelah itu saya bebas. Kebebasan untuk lo dan saya."
"Mas Bram."
"Lara. Saya tahu Anda tidak akan percaya saya sekarang. Saya tidak meminta Anda percaya. Saya cuma mau Anda tahu—saya sudah pilih. Saya pilih lo. Pilih Rasya. Pilih hidup biasa. Bukan jasa intelijen."
Lara menutup matanya. Pegunungan yang dia tidak lagi lihat.
"Mas. Apakah... apakah ada konsekuensi? Untuk Anda?"
"Lara. Iya. Mereka akan mengawasi saya beberapa tahun—lima tahun standar untuk keluar. Saya tidak akan boleh ke negara-negara tertentu. Tidak boleh kerja di sektor sensitif. Akses pasporrer terbatas. Tapi... saya tidak mati. Tidak hilang. Tidak dipenjara."
"Mas. Anda... yakin?"
"Lara. Saya yakin lebih dari yang saya pernah yakin tentang apa pun di hidup saya."
"Mas. Saya... saya butuh waktu."
"Lara. Sebanyak yang Anda butuh. Saya menunggu."
Lara menarik napas dalam.
"Mas. Anda... beritahu saya satu hal."
"Apa, Lara."
"Apakah... apakah cinta Anda untuk saya—di awal—adalah strategi?"
Bram diam beberapa detik di seberang.
"Lara. Tahun pertama, iya. Saya berusaha mendekati Anda dengan instruksi handler—bersikap manis, dengarkan, dukung. Saya melaporkan setiap minggu—analisis perilaku, koneksi keluarga, kemungkinan ancaman dari pihak yang ayah kau bersaksi melawan."
"Mas."
"Tapi tahun kedua... tahun kedua sudah berbeda. Saya mulai merasa sesuatu yang bukan strategi. Tahun ketiga—saat Anda hamil Rasya—saya... saya panik. Bukan karena khawatir kerja. Karena saya sadar saya cinta Anda. Dan saya cinta anak yang akan lahir."
"Mas."
"Saya melapor handler saya pertama kali tentang cinta saya saat itu. Mereka kasih saya pilihan: lanjutkan misi atau keluar. Saya pilih lanjutkan, dengan pemahaman bahwa Anda tetap target observasi. Tapi saya... saya menyembunyikan banyak dari mereka setelah itu. Saya tidak melaporkan banyak detail tentang Anda. Saya cuma melaporkan hal-hal yang generik, supaya mereka pikir misi masih jalan."
"Mas."
"Lara. Saya tidak sempurna. Saya berbohong tujuh tahun. Tapi cinta saya—sejak tahun ketiga—adalah real. Sumpah, Lara. Sumpah dengan apa pun yang Anda ingin saya sumpahkan."
Lara menangis di teras villa. Pelan, supaya Rasya tidak dengar dari kamar.
"Mas Bram."
"Iya."
"Saya... saya akan kembali. Tapi tidak ke Bintaro langsung. Saya kembali ke Jakarta dulu, ke rumah ibu saya. Anda dan saya bicara di sana, dengan ibu saya sebagai saksi. Setelah itu, kita putuskan."
"Lara. Iya. Apa pun yang Anda butuhkan."
Lara menutup telepon. Tidak bilang "love you." Belum.
Tapi dia tahu—dia tidak akan menghapus nomor yang Bram baru saja telepon dari riwayat panggilan.
Mungkin, dalam beberapa hari, atau minggu, atau bulan, dia akan menelepon kembali.