Lara menunggu satu hari lagi di villa. Indri konfirmasi: tracker menunjukkan Bram tetap di Bintaro, tidak bergerak. Tidak ada orang yang mengikuti Bram saat dia ke apartment Kemang. Tidak ada orang yang nampak mengintai rumah ibu Lara di Bekasi.
Lara dan Rasya pulang ke Jakarta hari kelima. Pagi-pagi, untuk menghindari macet siang dan supaya Rasya tidur sebagian besar perjalanan. Tidak ke Bintaro. Ke rumah ibu Lara di Bekasi.
Ibu Lara membuka pintu pukul setengah sebelas pagi. Wajahnya tegang, tapi lega.
"Lara."
"Bu."
"Rasya, masuk dulu sayang. Nenek udah masak ayam goreng kesukaan kau."
"Hore!"
Rasya lari ke dapur. Lara duduk di sofa. Ibu Lara di sebelahnya.
"Lara. Indri sudah cerita semuanya tadi pagi. Dia datang ke sini."
"Iya, Bu. Saya minta dia update."
"Lara. Bram datang kemari kemarin sore."
"Apa?"
"Iya. Datang lagi. Membawa kue lain dari toko Anda suka. Berdiri di pintu. Tidak masuk. Cuma kasih kue dan minta saya beri ke Anda kalau Anda kontak saya."
Ibu Lara menunjukkan kue. Brownies dari toko Bell di Cipete—kue yang sudah tiga hari di dapurnya, sudah dia simpan di kulkas, tidak dia makan sendiri karena menunggu Lara.
"Lara. Dia... dia hancur. Saya melihat. Sama seperti kemarin pagi yang saya cerita. Mata-nya yang sudah tidak tahu cara menyembunyikan."
"Bu. Dia agen. Dia bisa berakting."
"Lara. Saya psikolog setengah—hidup enam puluh tahun mengamati manusia. Saya tahu beda akting dan rasa hancur asli."
Lara tertawa kecil. Ibu Lara biasanya tidak begitu, tapi kalau perlu, dia bisa baca orang dengan tajam.
"Bu. Saya sudah telepon Bram kemarin. Dia bilang dia keluar dari pekerjaan. Memilih saya. Memilih Rasya."
"Lara. Saya percaya."
"Bu, Anda tidak terlalu cepat?"
"Lara. Saya kenal Bram tujuh tahun. Saya tahu cara dia menatap Anda saat Anda bicara—Anda tidak pernah sadari, tapi saya selalu lihat. Saya tahu cara dia memegang Rasya saat anak itu sakit. Saya bisa... saya bisa katakan itu real."
"Bu. Tapi dia berbohong tujuh tahun."
"Lara. Iya. Itu masalah. Itu pengkhianatan. Saya tidak meminta Anda mengabaikan."
"Lalu?"
"Lara. Saya cuma minta Anda... ingat, ada banyak macam pengkhianatan. Bohong tentang siapa Anda—itu pengkhianatan. Itu serius. Tapi setia setiap hari, jaga Anda, mencintai anak Anda—itu juga... bukan kepura-puraan. Bram tidak bisa berakting tujuh tahun begitu sempurna. Tidak ada manusia yang bisa."
Lara duduk di sofa. Memikirkan.
Bel pintu bunyi. Ibu Lara berdiri.
"Lara. Itu Bram. Saya undang dia."
"Bu! Anda—"
"Lara. Saya pikir sekarang adalah waktu. Anda dan dia bicara langsung. Dengan saya di sini sebagai saksi. Saya undang dia tadi pagi, setelah Anda telepon saya semalam bahwa Anda akan datang."
"Bu, Anda—"
Tapi ibu Lara sudah membuka pintu.
Bram berdiri di luar. Mengenakan kaos polos abu-abu dan jeans—bukan kemeja kantor yang biasa. Wajahnya... persis seperti yang Indri gambarkan tiga hari lalu, sekarang sedikit lebih baik. Lingkar hitam masih ada, tapi sudah mandi. Sudah ganti baju. Tapi tetap ada lelah yang tidak hilang dari mata.
"Mas Bram. Masuk."
Bram masuk. Berdiri di ruang tamu. Tidak duduk. Tidak menyentuh apa-apa. Cuma berdiri seperti tamu yang tidak yakin apakah dia akan diizinkan tinggal.
"Lara."
Lara berdiri dari sofa. Pelan.
"Mas."
Mereka berdiri saling tatap. Lara di satu sisi ruangan. Bram di sisi lain. Tiga meter di antara.
Ibu Lara duduk di kursi di tengah, menjadi mediator.
"Saya akan ke dapur masak buat Rasya. Sepuluh menit. Anda berdua bicara. Pintu dapur saya tutup, tapi kalau perlu apa-apa, panggil."
Ibu Lara keluar. Pintu dapur tertutup.
Bram menatap Lara.
"Lara. Saya... saya tidak tahu harus mulai dari mana."
"Mas. Mulai dari pertanyaan saya: apakah Anda menyesali tujuh tahun ini? Pernikahan kita?"
Bram tidak ragu menjawab.
"Tidak. Tujuh tahun ini adalah hal terbaik yang pernah saya alami. Saya akan ulangi tujuh tahun ini, dengan semua kebohongan dan kompromi, kalau itu cara saya bisa punya Anda dan Rasya."
"Walaupun dimulai sebagai pekerjaan?"
"Lara. Itu yang saya sesal—saya sesal saya pernah memandang Anda sebagai pekerjaan, walaupun cuma di tahun pertama. Saya tidak sesal hidup yang kita bangun setelah itu."
"Mas."
"Lara. Saya minta maaf. Untuk tujuh tahun bohong tentang siapa saya. Untuk semua momen Anda berbagi sesuatu yang penting dengan saya, dan saya tidak berbagi balik. Untuk privasi yang Anda kira normal tapi sebenarnya saya ambil dari Anda lewat laporan ke handler saya."
Lara menelan ludah.
"Mas Bram. Kalau saya tidak menemukan, Anda akan terus berbohong?"
Bram diam beberapa detik. Mata yang menatap lantai keramik ruang tamu.
"Lara. Iya. Saya akan terus berbohong sampai pensiun. Itu... itu kebijakan kerja saya. Sumpah saya pada negara."
"Mas."
"Lara. Tapi sekarang Anda tahu, saya keluar. Saya pilih Anda."
"Mas. Setelah saya menemukan."
"Iya. Setelah Anda menemukan. Saya tidak akan klaim saya akan keluar tanpa Anda menemukan. Saya tidak tahu apakah saya cukup berani untuk itu."
Lara duduk di sofa. Lemas. Bram juga akhirnya duduk—di kursi yang Indri pernah duduki tujuh hari lalu saat dia datang ke rumah ibu Lara untuk pertama kali.
"Mas Bram. Saya tidak tahu apakah saya bisa percaya Anda lagi."
"Lara. Saya tahu."
"Saya butuh waktu. Banyak."
"Lara. Sebanyak yang Anda butuh."
"Saya... saya akan tinggal di sini, dengan ibu saya, sementara. Dengan Rasya. Anda boleh mengunjungi Rasya, tapi tidak tinggal di sini. Saya tidak siap untuk Anda di rumah saya yang sama."
Bram mengangguk.
"OK, Lara."
"Saya akan butuh terapi pasangan. Kalau kita... kalau kita mau coba lagi."
"Iya. Saya juga butuh."
"Saya butuh Anda... Anda bayar untuk semua rekening kita yang berjalan, jangan tinggalkan saya tanpa support finansial. Tapi saya tidak akan pakai uang itu untuk apa pun selain biaya hidup saya dan Rasya. Saya butuh keamanan finansial saya sendiri. Saya akan kembali kerja full-time."
"Lara. Iya. Apa pun."
Lara menatap Bram.
"Mas. Saya tidak menjanjikan kita bisa kembali. Tapi saya juga tidak menjanjikan saya akan pergi selamanya."
"Lara. Saya akan menerima apa pun keputusan Anda. Bahkan kalau Anda akhirnya memilih cerai. Saya akan terima, walaupun saya akan hancur."
Lara tidak menjawab. Cuma mengangguk pelan.
Pintu dapur terbuka. Ibu Lara masuk dengan ayam goreng dan piring untuk Rasya.
"Bram. Anda makan dulu sebelum pulang."
"Bu. Saya... saya bukan keluarga lagi."
"Bram. Anda masih ayah Rasya. Selalu. Duduk."
Bram duduk. Makan ayam goreng yang ibu Lara siapkan—dengan tangan yang sedikit gemetar.
Rasya datang dari ruang main. Melihat Bram. Wajahnya berseri.
"BAPAK!"
Rasya berlari memeluk ayahnya. Bram—yang menahan tangis dari tadi—akhirnya menangis di dada anaknya.
Lara menatap dari sofa.
Dia masih tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tapi dia tahu satu hal: dia tidak bisa benci pria yang masih bisa membuat anaknya berseri seperti itu.