Lima tahun setelah Lara pulang ke Bintaro, dia berumur 41. Bram 44.
Pernikahan mereka ke-13 tahun. Yang pertama tujuh sebagai kebohongan. Yang berikutnya enam sebagai... sesuatu yang lebih jujur.
Rasya 13 tahun. SMP di sekolah swasta di Bintaro. Cerdas—dapat ranking tiga konsisten. Mulai menulis cerpen di blog Tumblr-nya yang dia kira tidak ada yang baca, tapi yang Lara baca diam-diam dan terkesan dengan tone-nya. Bagaimana anaknya bisa menulis dengan kedalaman seperti itu? Cerpen tentang perpisahan, tentang menemukan, tentang pulang. Mungkin Rasya ingat lebih banyak dari delapan bulan dia kira tidak ingat.
Lara naik ke posisi marketing director di perusahaan media. Gaji bagus. Tim sepuluh orang. Dia dihormati di industri—orang yang dia kerjakan dulu sebagai junior, sekarang melapor padanya.
Bram sukses di perusahaan e-commerce-nya. VP marketing sekarang. Tidak ada lagi pertemuan misterius. Tidak ada lagi kontak satu huruf. Hanya kerja biasa—rapat dengan tim, presentasi ke board, dinner dengan klien yang Lara tahu lokasinya semua.
Karina—partner Bram dulu—Lara tidak pernah cek apa yang terjadi padanya. Bram mungkin tahu, mungkin tidak. Mereka memilih untuk tidak bicara tentang itu. Salah satu kompromi yang mereka buat: ada hal-hal dari masa lalu Bram yang Lara tidak butuh tahu, asal tidak ada yang aktif sekarang.
Suatu malam, di kamar Bintaro, Lara dan Bram di ranjang. Rasya sudah tidur—sekarang di kamarnya sendiri, jarang ke kamar utama lagi karena dia 13 dan butuh privacy.
"Mas."
"Iya, Sayang."
"Saya pikir... saya pikir saya pernah marah dengan Anda. Sangat marah."
"Lara. Saya tahu."
"Tapi saya juga... saya tidak bisa marah lagi sekarang."
"Iya."
"Mas. Saya bukan berarti maafkan—saya tidak akan pernah benar-benar maafkan tujuh tahun bohong. Saya berarti saya... saya menerima. Bahwa Anda yang dulu adalah orang yang berbeda. Bahwa Anda yang sekarang adalah orang baru."
Bram menatap Lara di ranjang. Lampu samping yang remang. Tirai yang Lara tarik karena dia suka dingin AC.
"Lara. Iya. Saya merasa saya juga orang baru."
"Mas. Apakah Anda... apakah Anda kangen pekerjaan dulu?"
Bram berpikir. Lara menghargai bahwa dia tidak buru-buru jawab.
"Lara. Saya jujur. Kadang-kadang. Adrenalin. Pentingnya. Rasanya jadi 'penting' karena pekerjaan saya untuk negara, bukan untuk perusahaan. Tapi saya tidak kangen kebohongan. Tidak. Tidak pernah."
"Mas."
"Lara. Saya senang dengan hidup ini. Saya tidak pernah bisa hidup begini sebelumnya. Tujuh tahun lalu, saya mengira saya bahagia, tapi saya tidak hadir 100%. Saya selalu memikirkan misi. Sekarang... sekarang saya cuma di sini. Dengan Anda. Dengan Rasya. Dan itu lebih dari cukup."
"Mas."
"Iya."
"Saya juga senang."
Mereka berciuman. Pelan. Ciuman yang sudah lima tahun mereka lakukan setiap malam—bukan ciuman yang pasionate, tapi ciuman yang biasa. Ciuman yang berkata: saya masih di sini, kau masih di sini, kita masih oke.
Mereka tidur.
***
Pernikahan mereka tidak sempurna. Tapi mereka membangun ulang sesuatu yang real. Dari puing kebohongan. Dengan tangan kosong dan komitmen.
Tidak banyak orang yang tahu cerita lengkap mereka. Cuma ibu Lara (yang masih hidup, sekarang umur 67), Indri, Bu Sumarni, Bram, dan Lara sendiri. Rasya tahu sebagian—Lara dan Bram putuskan tahun lalu untuk cerita pelan-pelan ke Rasya, supaya dia tidak terkejut kalau suatu hari menemukan sendiri.
Lara kadang berpikir untuk menulis tentang itu. Dia penulis amatir di blog kecilnya, dengan beberapa pembaca setia. Tapi Bram bilang—suatu malam saat mereka diskusi:
"Lara. Saya akan dukung apa pun Anda mau tulis. Tapi saya minta—kalau Anda menulis tentang pekerjaan saya yang dulu—sembunyikan detail. Bukan karena saya khawatir saya kena. Karena... karena keluarga kita hidup sekarang. Saya tidak mau menariknya kembali ke perhatian."
"Mas. Iya. Saya tidak akan menulis sekarang."
"Mungkin nanti. Sepuluh tahun lagi. Dua puluh. Saat sudah sangat jauh dari pekerjaan saya yang dulu."
"Mungkin, Mas. Saya pikirkan."
***
Lima tahun sudah lewat sejak Lara pulang ke Bintaro. Mungkin lima tahun lagi, atau sepuluh, atau dua puluh—Lara akan tetap bersama Bram.
Karena dia memilih.
Tidak karena tidak ada pilihan lain. Karena dia memilih, setiap hari, untuk tetap.
Bram juga.
Setiap pagi sarapan tujuh menit. Setiap Selasa terapi (sekarang sudah dikurangi jadi sebulan sekali, bukan mingguan). Setiap weekend keluar dengan Rasya. Setiap malam tidur dengan tangan Bram di pinggang Lara.
Cara mereka tidur sejak hari pertama nikah.
Cara yang sekarang—setelah lima tahun rebuilding—lebih jujur dari sebelumnya.